Sementara itu dari internal, Dana Moneter International atau IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2026 mencapai 5 persen. Angka ini lebih rendah ketimbang laporan IMF Januari lalu yang memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencatatkan kenaikan 5,1 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2027 royeksi di 5,1 persen.
Tak cuma Indonesia, IMF juga memproyeksi pertumbuhan ekonomi global yang melambat menjadi 3,1 persen pada 2026.
Hal ini sebagai dampak pecahnya perang di Timur Tengah tahun ini usai perekonomian juga sempat bertahan hambatan perdagangan tahun lalu.
IMF bukan satu-satunya lembaga yang menurunkan proyeksinya terhadap Indonesia, sebelumnya World Bank alias Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2026. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan proyeksi Bank Dunia pada Oktober 2025 karena pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tumbuh 4,8 persen.
Sementara, Asian Development Bank (ADB) memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh stabil 5,2 persen pada 2026 dan 2027. Kuatnya permintaan domestik dan belanja infrastruktur menjadi penopang utama stabilitas ekonomi di kawasan Asia Tenggara terutama Indonesia.
Dengan berbagai sentimen di atas, untuk perdagangan besok, mata uang rupiah masih akan fluktuatif namun diproyeksi ditutup melemah pada rentang Rp17.140- Rp17.180 per USD.
(NIA DEVIYANA)