Situasi tersebut sangat berisiko mengingat krisis bahan bakar tidak hanya berlangsung sepekan seperti insiden kelangkaan BBM di Denpasar beberapa waktu lalu, melainkan dapat meluas secara sistemik.
Terlebih, hubungan bilateral kedua negara terjalin sangat erat di mana Singapura tercatat sebagai investor asing terbesar kedua di Indonesia.
Kendati membuka celah risiko energi, diplomasi Singapura diproyeksikan tetap bersandar pada kalkulasi untung-rugi ketimbang konfrontasi emosional.
"Singapura adalah negara yang sangat rasional dan lebih mementingkan keuntungan bisnis daripada terpancing emosi balas-membalas," kata dia.
(Nur Ichsan Yuniarto)