Dia menjelaskan bahwa tantangan utama saat ini adalah menemukan titik keseimbangan (win-win solution) agar formula harga yang dihasilkan nanti tidak memberatkan industri nasional, namun tetap realistis bagi keberlanjutan sektor hulu dan hilir migas.
“Sekarang lagi saya mencari formulasi untuk bagaimana bisa memberikan harga terjangkau, tapi juga tidak bisa terlalu dengan harga yang mereka inginkan. Sekarang lagi kita mencari formula," kata Bahlil.
Terkait kekhawatiran pelaku usaha mengenai lonjakan harga energi, dia mengklarifikasi adanya perbedaan struktur dalam komponen harga gas. Bahlil memastikan bahwa regulasi harga untuk HGBT sejauh ini tidak mengalami kenaikan. Namun, dia tidak menampik adanya potensi penyesuaian jika pasokan gas bersumber dari Liquefied Natural Gas (LNG).
“Kalau harga HGBT enggak naik. Tapi kalau memang harganya dari LNG, pasti naik," ujarnya.
Formulasi kebijakan harga gas ini diharapkan dapat segera rampung dalam waktu dekat dan dapat memberikan kepastian iklim investasi dan menjaga daya saing industri di Indonesia. (Reporter: Eugenia Siregar)
(NIA DEVIYANA)