IDXChannel - Peraih Nobel Ekonomi Peter Howitt menyarankan pemerintah Indonesia memprioritaskan strategi imitasi dan adaptasi teknologi secara masif untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut dapat menjadi katalis untuk melepaskan diri dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap).
Menurutnya, menyalin serta memodifikasi teknologi matang dari negara maju merupakan jalan pintas paling rasional dan ekonomis sebelum melangkah ke fase inovasi teknologi garis depan (frontier innovation).
Pemerintah Indonesia disarankan untuk menempuh lompatan percepatan ekonomi dengan mengoptimalkan strategi penyerapan dan adaptasi teknologi yang sudah mapan dari negara-negara maju.
"Bagi negara seperti Indonesia, imitasi dan implementasi teknologi merupakan alternatif rasional sebelum melangkah ke inovasi murni. Mengadopsi teknologi yang telah terbukti sering kali menjadi jalan pintas paling ekonomis untuk meningkatkan kapabilitas domestik," ujar Howitt secara virtual dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF), Senin (26/10/2026).
Namun, Howitt mengingatkan bahwa penerapan teknologi asing tidak bisa dilakukan secara instan atau siap pakai begitu saja. Setiap upaya implementasi menuntut pemecahan masalah lokal seperti penyesuaian terhadap ekspektasi tenaga kerja, respons pekerja, selera pasar, kapabilitas, hingga kondisi kelembagaan setempat, yang pada hakikatnya merupakan proses inovasi tersendiri untuk mencetak lompatan pertumbuhan.
Peluang akselerasi tersebut terbuka lebar mengingat struktur ketenagakerjaan nasional saat ini masih didominasi oleh sektor primer berproduktivitas rendah. Howitt melihat adanya momentum strategis untuk mengalihkan jutaan tenaga kerja tani ke sektor industri pengolahan dengan daya saing upah internasional.
"Saya memandang ruang strategi ini masih sangat terbuka lebar bagi Indonesia, di mana lebih dari seperempat populasi angkatan kerja masih terkonsentrasi di sektor pertanian. Tenaga kerja ini dapat ditransisikan secara relatif mudah ke sektor manufaktur dengan tingkat upah yang kompetitif secara internasional," kata Howitt.
Indonesia dinilai dapat meneladani keberhasilan negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Singapura, dan China, yang sukses keluar dari middle-income trap. Keberhasilan tersebut bertumpu pada penguasaan teknologi asing yang dikelola oleh korporasi berskala raksasa, pasokan tenaga kerja disiplin, dukungan perbankan nasional, perencanaan industri terpusat, serta keterbukaan terhadap penanaman modal asing langsung (FDI).
Kemudian, kemitraan dengan perusahaan multinasional menjadi saluran transfer teknologi yang efisien dalam menyerap metode produksi modern dan memanfaatkan skala ekonomi melalui pasar ekspor global.