sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Pertumbuhan Ekonomi RI Berhasil Capai Level Pra Pandemi, Ungguli Negara Tetangga

Economics editor Wahyu Dwi Anggoro
08/10/2024 15:06 WIB
Indonesia menjadi satu-satunya negara berkembang besar di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang bertumbuh setara atau di atas tingkat sebelum pandemi.
Pertumbuhan Ekonomi RI Berhasil Capai Level Pra Pandemi, Ungguli Negara Tetangga. (Foto: MNC Media)
Pertumbuhan Ekonomi RI Berhasil Capai Level Pra Pandemi, Ungguli Negara Tetangga. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Indonesia menjadi satu-satunya negara berkembang besar di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang bertumbuh setara atau di atas tingkat sebelum pandemi pada 2024 dan 2025.

Menurut laporan Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi di Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam diperkirakan masih berada di bawah tingkat sebelum pandemi pada dua tahun ke depan.

"Untuk dapat mempertahankan pertumbuhan yang kuat di jangka menengah, negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik harus bersikap pro-aktif memodernisasi dan mereformasi perekonomian mereka dalam menavigasi pola perdagangan maupun teknologi yang terus berubah," kata Manuela V Ferro, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik, dalam keterangan persnya pada Selasa (8/10/2024).

Laporan World Bank East Asia and The Pacific Economic Update October 2024 memroyeksikan pertumbuhan di kawasan Asia Timur dan Pasifik berada pada angka 4,8 persen di 2024 dan melambat ke 4,4 persen di pada 2025.

Economic Update kali ini menyoroti tiga faktor yang diperkirakan memengaruhi pertumbuhan di kawasan ini: bergesernya perdagangan dan investasi, melambatnya pertumbuhan di China, serta meningkatnya ketidakpastian kebijakan dunia.

Pertama, ketegangan pada sektor perdagangan yang akhir-akhir ini terjadi antara Amerika Serikat dengan China telah membuka peluang bagi negara-negara seperti Vietnam untuk memperdalam peran mereka di rantai nilai global dengan menghubungkan para mitra perdagangan utama. Perusahaan-perusahaan asal Vietnam yang mengekspor ke Amerika Serikat mengalami pertumbuhan angka penjualan sebesar hampir 25 persen lebih cepat daripada perusahaan-perusahaan yang mengekspor ke negara tujuan lainnya selama periode 2018-2021.

Akan tetapi, bukti baru menunjukkan adanya kemungkinan negara-negara mengalami keterbatasan dalam memainkan peran mereka sebagai penghubung satu arah, seiring diterapkannya berbagai ketentuan asal barang (Rules of Origin) yang baru dan lebih ketat mengenai pembatasan impor dan ekspor.

Kedua, negara-negara tetangga China mendapatkan manfaat dari pertumbuhannya yang kuat selama tiga dekade terakhir, akan tetapi saat ini daya dorong tersebut melemah. China mengangkat negara-negara lain dengan permintaan impornya, namun permintaan impor tersebut saat ini bertumbuh bahkan lebih lambat daripada produk domestik bruto (PDB). Impor mengalami pertumbuhan hanya 2,8 persen dalam tujuh bulan pertama tahun ini, dibandingkan dengan hampir 6 persen per tahun dalam dekade sebelumnya.  

Ketiga, ketidakpastian global dapat berdampak negatif bagi perekonomian di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Selain ketidakpastian geopolitik, meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekonomi dapat mengurangi produksi sektor industri hingga 0,5 persen maupun harga saham di kawasan ini hingga satu persen. 

“Model pembangunan di Asia Timur – bergantung kepada pasar global terbuka dan produksi intensif tenaga kerja – saat ini menghadapi tantangan yang disebabkan oleh ketegangan perdagangan dan teknologi baru. Respons terbaik adalah dengan memperdalam perjanjian perdagangan dan memperlengkapi pekerja dengan keterampilan dan mobilitas, agar dapat memanfaatkan berbagai teknologi baru," kata Ekonom Utama Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo. (Wahyu Dwi Anggoro)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement