Tantangan bagi perekonomian nasional tidak berhenti di situ. Purbaya menuturkan, gejolak geopolitik berupa keterlibatan perang di Iran serta ketatnya likuiditas dan tekanan nilai tukar rupiah turut menjadi ujian berat yang menguji efektivitas kebijakan fiskal pemerintah.
"Setelah kami menyelesaikan semuanya, kemudian ada perang di Iran. Setelah itu, mereka tidak menyukai saya. Mereka mengatakan bahwa Menteri ini tidak cukup baik," ujar Purbaya.
Meski diterpa kritik dan dihantam empat guncangan utama sekaligus, mulai dari isu likuiditas, evaluasi MSCI, penilaian Fitch dan Moody's, hingga volatilitas nilai tukar, Purbaya menegaskan kebijakan fiskal dan koordinasi pemerintah berhasil menjaga stabilitas nasional.
"Faktanya, kami telah mengadakan kebijakan yang sangat baik dengan kebijakan fiskal dan pemerintah. Dengan kondisi ekonomi dan politik yang sangat tidak tentu, kami masih berhasil tumbuh lebih dari 5 persen. Ini adalah pencapaian menurut saya," katanya.
Purbaya lantas menggarisbawahi keberhasilan Indonesia melewati rentetan krisis dalam waktu berdekatan menjadi bukti nyata ketangguhan dan solidnya fondasi perekonomian domestik saat ini.
"Satu saja sudah cukup, kali ini kita menghadapi empat sekaligus. Namun ekonomi Indonesia tetap kokoh, sistem keuangan tetap stabil, dan kegiatan ekonomi tetap berjalan. Ini menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia jauh lebih kuat dibandingkan masa-masa krisis sebelumnya," ujar Purbaya.
(Dhera Arizona)