Reni menambahkan, tantangan utama industri manufaktur dalam negeri saat ini tidak hanya terletak pada kapasitas produksi, melainkan pada penyerapan produk di pasar domestik serta integrasi ke dalam rantai pasok global.
"Tantangan utama industri nasional saat ini bukan sekadar kemampuan memproduksi, melainkan bagaimana kita memastikan produk-produk buatan dalam negeri diserap dan digunakan oleh masyarakat serta mampu mengambil peluang dalam rantai pasok global," tuturnya.
"Kita perlu memperkuat pasar domestik melalui penerapan standar, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, serta penguatan daya saing agar produk mainan buatan Indonesia semakin diminati di pasar nasional dan mampu memperluas penetrasi di pasar internasional," tambahnya.
Berdasarkan data BPS tahun 2024 dan SIINas 2025, sektor industri mainan di Indonesia disokong oleh 256 unit usaha yang menyerap hingga 15.663 tenaga kerja. Selain itu, terdapat 10 sentra IKM mainan yang tersebar di Jawa Tengah (4 sentra), Jawa Barat (5 sentra), dan Jawa Timur (1 sentra).
Selain membidik pasar internasional, Kemenperin juga mendorong penguatan pasar domestik melalui Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan kewajiban standar mutu. Hingga tahun 2026, sebanyak 65 pelaku industri mainan telah mengantongi sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar dapat masuk ke pasar pengadaan pemerintah.