Menurut Rosan, momentum ini justru menjadi pijakan penting untuk menyelaraskan agenda penanganan karhutla dengan pengembangan investasi ramah lingkungan. Pemerintah berpandangan bahwa keterbukaan ruang dialog bilateral antarpembuat kebijakan sangat krusial agar kepentingan iklim usaha dan keberlanjutan ekologi kawasan dapat berjalan beriringan.
Mekanisme pertukaran pandangan secara berkala disiapkan untuk merumuskan solusi kolaboratif yang menguntungkan stabilitas kawasan. Pendekatan kemitraan terbuka ini diyakini mampu menyelaraskan kepentingan ekonomi nasional dengan tuntutan standar keberlanjutan global.
"Dan saya pun terbuka berbicara untuk mendapatkan masukan, feedback juga dari pihak mereka, dari kita pun memberikan masukan apa yang kita bisa kolaborasikan bersama agar kepentingan baik Indonesia dan negara-negara tetangga ini bisa lebih rata meningkat ke depan," kata Rosan.
(NIA DEVIYANA)