AALI
12925
ABBA
197
ABDA
0
ABMM
3280
ACES
1010
ACST
163
ACST-R
0
ADES
4830
ADHI
670
ADMF
8050
ADMG
187
ADRO
3310
AGAR
354
AGII
1975
AGRO
960
AGRO-R
0
AGRS
127
AHAP
61
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
160
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
930
AKRA
1025
AKSI
232
ALDO
925
ALKA
298
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/20 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
542.40
0.61%
+3.27
IHSG
6918.14
1.39%
+94.81
LQ45
1015.18
0.69%
+6.97
HSI
20717.24
2.97%
+596.56
N225
26739.03
1.27%
+336.19
NYSE
0.00
-100%
-15044.52
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,664
Emas
870,562 / gram

Sri Mulyani Muncul di Pertemuan IMF, Ternyata Ini yang Dibahas

ECONOMICS
Advenia Elisabeth/MPI
Jum'at, 15 Oktober 2021 18:54 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, mengaku menghadiri pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) ke Washington DC, Amerika Serikat.
Sri Mulyani Muncul di Pertemuan IMF, Ternyata Ini yang Dibahas. (Foto: MNC Media)
Sri Mulyani Muncul di Pertemuan IMF, Ternyata Ini yang Dibahas. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, mengaku menghadiri pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) ke Washington DC, Amerika Serikat. Ada sejumlah isu yang dibahas dalam forum tersebut, mulai dari soal perekonomian hingga vaksinasi Covid-19.

Dalam pertemuan yang sudah berlangsung selama dua hari itu, IMF membahas mengenai peta pemulihan ekonomi dunia yang tidak merata, kondisi ini terjadi akibat tidak semua negara mampu mendapat akses vaksin Covid-19.

"Hari kedua pertemuan tahunan IMF World Bank. Pembahasan mengenai pemulihan ekonomi dunia yang tidak merata akibat tidak semua negara mampu mendapat akses vaksin Covid dan munculnya tantangan dan ketidakpastian baru yang menimbulkan komplikasi bagi para pembuat kebijakan,” tulis Sri Mulyani dikutip dari media sosial resminya @smindrawati, Jumat (15/10/2021).

Ia mengatakan keadaan seperti itu didorong oleh naiknya harga-harga komoditas. Di mana hal itu memicu menaikkan angka inflasi di negara-negara maju.  

“Naiknya harga minyak dan gas, harga komoditas, harga pangan, ditambah dengan disrupsi rantai supply- telah menimbulkan tekanan inflasi tinggi di berbagai negara-negara maju,” tuturnya.

Menurutnya, kondisi ini akan memaksa perubahan kebijakan moneter di negara maju yang berpotensi menimbulkan dampak rambatan spillover ke seluruh dunia. 

"Akibatnya semua negara mengalami penurunan ruang fiskal dan moneter, sementara tekanan ekonomi masih belum menurun," jelas Menkeu. 

Terlebih kompleksitas lingkungan global yang masih menjadi isu dunia, termasuk pandemi Covid-19 yang belum berakhir. Maka dibutuhkan kebijakan akan penanganan serta sumber data yang tepat agar kebijakan yang dibuat dapat cepat diimplementasikan dengan baik. 

"Kompleksitas lingkungan global juga masih ditambah dengan tantangan perubahan iklim dan pandemi yang belum berakhir, yang menuntut semua negara untuk menyusun kebijakan penanganan, yang membutuhkan sumber data/resource yang tidak sedikit, namun apabila tidak ditangani sejak sekarang akan menimbulkan dampak kerugian material yang sangat besar dan bahkan krisis kemanusiaan,” ucapnya.

Oleh karena itu, menurutnya tantangan yang ada perlu dihadapi dan ditangani dengan kombinasi kebijakan fiskal, moneter. Di mana tidak hanya bersifat responsif dan fleksibel, namun tetap terukur dan akuntabel. Konsolidasi fiskal juga harus dilakukan secara bertahap dan perkuatan pemulihan.

"Reformasi struktural untuk membangun dan memperkuat fondasi ekonomi yang produktif, inovatif dan kompetitif harus terus dilakukan dengan konsisten dan efektif serta berhasil guna," sambung Sri Mulyani.

Kemudian ia menambahkan, Indonesia harus terus melakukan langkah-langkah pemulihan ekonomi dan memperkuat fondasi ekonomi dengan berbagai langkah reformasi struktural. Termasuk menyatukan semua pemangku kepentingan. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD