IDXChannel—Deloitte memperkirakan investasi infrastruktur dan integrasi pada berbagai kategori aset akan meningkat pesat di seluruh dunia, menyusul sistem fisik dan digital yang kian menyatu dan terhubung pada berbagai sektor industri.
Dalam laporan terbaru Deloitte yang bertajuk ‘2026 Future of Infrastructure Survey’, perusahaan konsultasi manajemen dan audit itu melakukan survei yang diikuti oleh 985 market leader di bidang infrastruktur di pemerintahan, sektor swasta, dan nirlaba di 21 negara.
Seluruh responden mewakili empat kategori utama bidang infrastruktur. Yakni infrastruktur dan jaringan digital (energi, air, dan utilitas lain), mobilitas dan transportasi, infrastruktur sosial, dan hiburan.
Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur kini telah berkembang dari aset berdiri sendiri menjadi sistem yang saling terhubung, di mana aset fisik dan digital makin bergantung satu sama lain.
Sebanyak 69 persen responden memperkirakan peningkatan demand terhadap infrastruktur pintar dan terkoneksi. Secara bersamaan, 45 persen responden menyebut bahwa ketergantungan lintas sistem seperti ini akan menjadi tantangan utama.
Dari segi pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan, pelaku usaha bukan hanya perlu meningkatkan investasi, melainkan juga memastikan bahwa infrastruktur yang dibutuhkan dapat dibangun, dioperasikan, dan diamankan sebagai satu ekosistem yang saling terintegrasi.
Oleh sebab itu, para pelaku usaha perlu menerapkan model baru untuk koordinasi, visibilitas, dan perencanaan bersama yang melampaui batas organisasi dan sektor. Responden menyatakan bahwa struktur lama dengan kebijakan yang terpisah-pisah dan model penyediaan (delivery models) lawas kini menimbulkan risiko terbesar.
Deloitte juga melaporkan bahwa lebih dari 1 dari 10 megaproyek global menghadapi penundaan dan pembatalan karena struktur pengerjaan yang terfragmentasi dan belum terintegrasi sepenuhnya.
“Organisasi di sektor publik maupun swasta harus mampu menciptakan kembali cara mengelola kompleksitas demi membuka potensi ekonomi baru serta menghindari rentetan kegagalan sistemik (cascading failures),” tulis Deloitte dalam laporannya (3/11/2026).
Infrastructure Practice Leader Deloitte Consulting Kelly Marchase mengatakan bahwa tantangan mendesak yang lazim dihadapi klien Deloitte adalah bagaimana mendanai, membangun, serta melindungi sistem kompleks lintas sektor dan wilayah.
“Efektivitasnya sangat bergantung pada koordinasi yang lebih kuat, pendekatan baru terhadap risiko, dan kemampuan untuk meningkatkan skala teknologi dan talent. Mereka yang mampu beradaptasi dengan sistem baru ini akan berada di posisi strategis untuk membuka potensi ekonominya,” kata Marchese.
Seiring meluasnya dan beragamnya prioritas investasi infrastruktur, tantangan bergeser dari sekadar memperoleh akses terhadap modal menjadi mencocokkan jenis pendanaan dengan kebutuhan dan risiko setiap proyek.
Survei Deloitte menemukan bahwa 31 persen pemimpin menyebut keterbatasan anggaran sebagai hambatan utama. Sementara itu, banyak proyek, terutama di bidang infrastruktur digital, energi, dan sosial, yang membutuhkan model pendanaan yang disesuaikan dengan kebutuhan serta strategi berbagi risiko, bukan pendekatan pembiayaan yang seragam.
Model pendanaan yang efektif kemungkinan bergantung pada kombinasi sumber pendanaan publik dan swasta, pengembangan portofolio proyek yang layak untuk diinvestasikan, serta pembagian risiko yang seimbang agar proyek dapat direalisasikan dalam skala besar.
Hambatan Institusional Memperlambat Kemajuan
Meskipun investasi terus meningkat, proses perizinan, pengadaan, dan regulasi yang rumit kini menjadi hambatan utama dalam realisasi proyek infrastruktur.
Survei Deloitte menunjukkan bahwa 39 persen pemimpin secara global menyebut kompleksitas regulasi sebagai tantangan terbesar dalam implementasi, sementara hambatan institusional memperlambat proyek bahkan setelah pendanaan diperoleh.
Penyederhanaan proses persetujuan dan pemanfaatan AI untuk mengotomatisasi berbagai tugas, yang saat ini menjadi prioritas bagi 36 persen organisasi dan diperkirakan meningkat menjadi 42 persen dalam tiga tahun ke depan, akan menjadi kunci untuk mengatasi penundaan sistemik dan merealisasikan proyek dalam skala besar.
AI sebagai Lapisan Operasional Infrastruktur
Pemanfaatan AI berkembang pesat, dari aplikasi yang berdiri sendiri menjadi bagian inti dari sistem operasional infrastruktur yang saling terhubung. AI memungkinkan peningkatan kinerja sistem secara berkelanjutan dan pengambilan keputusan yang lebih tepat.
Survei Deloitte menunjukkan bahwa 61 persen responden menyebut pemeliharaan prediktif (predictive maintenance) sebagai penerapan AI yang paling banyak digunakan saat ini. Dalam tiga tahun ke depan, 44 persen pemimpin berencana memperluas pemanfaatan AI untuk memprediksi kebutuhan energi.
Sementara 40 persen berencana menerapkannya dalam logistik rantai pasok. Namun, 34 persen pemimpin mengidentifikasi keterbatasan talenta di bidang teknologi, khususnya AI dan keamanan siber, sebagai salah satu hambatan utama dalam memperluas penerapan inovasi ini.
Untuk mengoptimalkan manfaat AI di sepanjang siklus hidup infrastruktur, organisasi perlu membangun fondasi yang kuat dalam pengelolaan data, tata kelola, dan pengembangan tenaga kerja.
Seiring semakin terhubungnya sistem infrastruktur, para pemimpin tidak bisa lagi hanya berfokus pada perlindungan aset secara individual. Survei Deloitte juga menunjukkan bahwa 60 persen responden dari kalangan pemerintah memprioritaskan keamanan siber, menjadikannya area investasi utama.
Namun, hanya 33 persen yang menempatkan ketahanan terhadap perubahan iklim sebagai prioritas utama, meskipun 56 persen responden mengakui bahwa cuaca ekstrem merupakan ancaman terbesar bagi infrastruktur.
(Nadya Kurnia)