Adapun defisit bersumber dari perdagangan migas yang tercatat minus USD3,49 miliar, dan penyumbang terbesarnya berasal dari impor hasil minyak dan minyak mentah.
Sebelumnya, neraca perdagangan barang selalu mencatat tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Untuk menambal celah defisit impor energi yang membengkak, pemerintah mengandalkan akselerasi program penyerapan bahan bakar nabati di dalam negeri.
Optimalisasi mandatori biodiesel seperti B50 diproyeksikan mampu memangkas ketergantungan impor minyak mentah sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
"Energi kan sudah bertahun-tahun neracanya negatif. Nah ini kita akan dorong dengan adanya misalnya biodiesel seperti B50, itu akan kita turunkan defisitnya," ujar Airlangga.