AALI
9725
ABBA
224
ABDA
0
ABMM
780
ACES
1480
ACST
280
ACST-R
0
ADES
1665
ADHI
1165
ADMF
8075
ADMG
167
ADRO
1185
AGAR
428
AGII
1095
AGRO
910
AGRO-R
0
AGRS
570
AHAP
71
AIMS
494
AIMS-W
0
AISA
274
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
585
AKRA
3240
AKSI
785
ALDO
870
ALKA
242
ALMI
236
ALTO
318
Market Watch
Last updated : 2021/05/07 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
468.07
-0.98%
-4.61
IHSG
5928.31
-0.7%
-41.93
LQ45
880.72
-0.93%
-8.22
HSI
28610.65
-0.09%
-26.81
N225
29357.82
0.09%
+26.45
NYSE
0.00
-100%
-16348.41
Kurs
HKD/IDR 1,838
USD/IDR 14,290
Emas
835,733 / gram

Tesla Pilih India daripada Indonesia, Pengamat: Kita Tidak Perlu Cemas

ECONOMICS
Oktiani/Koran Sindo
Jum'at, 19 Februari 2021 12:30 WIB
Produsen mobil listrik milik Elon Musk ini lebih tertarik berinvestasi pada pengembangan sistem penyimpanan energi atau Energy Storage System (ESS).
Tesla Pilih India daripada Indonesia, Pengamat: Kita Tidak Perlu Cemas (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Perusahaan mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla Inc dikabarkan akan membangun pabrik mobil listrik di India. Bahkan, Tesla dikabarkan tengah mendekati tahap akhir untuk mencapai kesepakatan memproduksi mobil listrik di India. 

Menanggapi hal tersebut, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter mengatakan, Indonesia tidak perlu berharap apalagi cemas terkait hal tersebut. 

Menurut dia, Indonesia masih punya peluang dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik karena memiliki sumber daya mineral yang berlimpah. 

"Kita tidak perlu bergantung pada Tesla karena sumber daya mineral ada di Indonesia. Utamanya bagaimana kita bisa mencari alternatif lain di luar Tesla sehingga tidak bergantung pada satu pihak saja. Jadi tidak perlu berharap dan tidak perlu cemas," ujarnya pada Market Review IDX Channel, Jumat (19/2/2021). 

Sejak akhir tahun lalu, pemerintah sudah mengungkapkan bahwa Tesla berminat berinvestasi di Indonesia. Namun dalam perkembangannya ternyata Tesla tidak punya rencana membangun pabrik mobil listrik di Indonesia. 

Produsen mobil listrik milik Elon Musk ini lebih tertarik berinvestasi pada  pengembangan sistem penyimpanan energi atau Energy Storage System (ESS). 

"Kita memiliki sumber daya untuk baterai tersebut. Oleh karena itu, sebenarnya mungkin kita yang terlalu jauh menyimpulkan investasi Tesla itu dalam bentuk pembangunan pabrik mobil, walaupun sebenarnya pemerintah sudah menyampaikan di awal minat bukan ke pabrik mobil tetapi ke EES," jelas Piter. 

Menurut dia, sekarang ini yang harus dikembangkan adalah teknologinya bekerja sama dengan berbagai pihak. 

"Kita bisa bekerja sama dengan China, Jepang, Korea, atau negara-negara lain. Kalau sekarang ini Tesla yang bisa mengembangkan industri baterai terbaik, bukan berarti kita tidak bisa melakukan sesuatu yang lebih baik," paparnya. (Sandy)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD