Menurut Fajri, efisiensi biaya menjadi manfaat yang relatif cepat terlihat setelah merger, antara lain melalui integrasi sistem informasi dan teknologi yang sebelumnya berjalan terpisah. Konsolidasi juga memungkinkan perusahaan mengevaluasi kembali aset produktif dan tidak produktif untuk meningkatkan optimalisasi.
“Indikator yang paling cepat terlihat adalah peningkatan laba, terutama melalui perbaikan struktur biaya. Misalnya, empat sistem informasi bisa diintegrasikan menjadi satu sehingga lebih efisien. Aset-aset perusahaan juga perlu diidentifikasi kembali mana yang produktif dan mana yang tidak,” ujarnya.
Fajri menambahkan, keberhasilan konsolidasi sangat ditentukan oleh tata kelola dan kemampuan membangun satu budaya korporasi. Dia mencontohkan pembentukan Bank Syariah Indonesia dari tiga bank syariah BUMN sebagai pembelajaran bahwa merger dapat menghasilkan entitas dengan skala bisnis lebih besar apabila proses integrasi berjalan efektif.
“Kalau kita melihat BSI, tiga bank syariah sebelumnya memiliki karakter dan budaya masing-masing. Setelah digabung, mereka bisa membangun satu identitas dan budaya sebagai BSI. Ini bisa menjadi pembelajaran bahwa merger dapat menciptakan nilai tambah kalau ego masing-masing entitas bisa dihilangkan dan dibangun satu tata kelola yang baru,” katanya.
(Dhera Arizona)