IDXChannel - Utang nasional Amerika Serikat (AS) melampaui USD40 triliun atau sekitar Rp712.000 triliun, rekor tertinggi sepanjang sejarah negara itu.
Dilansir dari AP pada Kamis (20/8/2026), rekor ini didorong pengeluaran pertahanan, program sosial seperti Jaminan Sosial dan Medicare, serta pembayaran bunga utang.
Rekor ini tercatat hanya lima bulan setelah utang nasional AS menembus USD39 triliun pada Maret 2026. Lima bulan sebelumnya, pada Oktober 2025, angkanya mencapai USD38 triliun.
"Pemerintahan Presiden Donald Trump telah fokus pada pengurangan pemborosan, penipuan, dan penyalahgunaan dalam pengeluaran pemerintah federal sambil mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk membuat rasio utang bergerak ke arah yang benar," kata Juru Bicara Gedung Putih Kush Desai.
Namun, para ahli mengatakan bahwa rekor terbaru ini akan memengaruhi keuangan warga AS dengan menaikkan biaya pinjaman untuk hal-hal seperti hipotek dan mobil, menurunkan upah banyak pekerja, dan mengerek harga barang dan jasa.
“Jika kita ingin meningkatkan standar hidup kita, hari ini dan untuk generasi mendatang, sekaranglah saatnya bagi para pembuat undang-undang untuk menempatkan negara kita pada jalur yang lebih terjangkau dan berkelanjutan,” kata Michael A Peterson, CEO dari Peter G Peterson Foundation, sebuah lembaga think tank yang berfokus pada tantangan fiskal AS.
Utang nasional AS naik tajam beberapa dekade ke belakang. Trump dan pendahulunya menghabiskan lebih banyak uang daripada yang dikumpulkan dari pajak.
Pemerintah AS tunduk pada batas utang yang ditetapkan Kongres. Bipartisan Policy Center memperkirakan bahwa AS kemungkinan besar akan mencapai batas utang USD41,1 triliun tahun depan, yang mengharuskan Kongres untuk kembali melakukan pemungutan suara tentang apakah akan menaikkan atau menangguhkan batas utang tersebut. (Wahyu Dwi Anggoro)