AALI
8900
ABBA
230
ABDA
7075
ABMM
845
ACES
1415
ACST
252
ACST-R
0
ADES
1915
ADHI
1005
ADMF
8250
ADMG
163
ADRO
1315
AGAR
422
AGII
1125
AGRO
1135
AGRO-R
0
AGRS
470
AHAP
68
AIMS
380
AIMS-W
0
AISA
238
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
595
AKRA
3200
AKSI
535
ALDO
930
ALKA
244
ALMI
250
ALTO
382
Market Watch
Last updated : 2021/06/11 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
482.65
-0.44%
-2.14
IHSG
6095.50
-0.2%
-12.04
LQ45
901.64
-0.42%
-3.77
HSI
28842.13
0.36%
+103.25
N225
28948.73
-0.03%
-9.83
NYSE
0.00
-100%
-16620.00
Kurs
HKD/IDR 1,826
USD/IDR 14,188
Emas
866,552 / gram

Wamendag: CPO Indonesia Makin Diterima Negara EFTA 

ECONOMICS
Ferdi Rantung/Sindonews
Minggu, 09 Mei 2021 01:12 WIB
Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengapresiasi negara-negara European Free Trade Association (EFTA) yang telah menandatangani perjanjian ekonomi.
MPI

IDXChannel--Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengapresiasi negara-negara European Free Trade Association (EFTA) yang telah menandatangani perjanjian ekonomi Indonesia-EFTA-CEPA. Perjanjian ini menjadi peluang yang sangat positif terkait penerimaan produk minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) Indonesia. 

Selama ini, CPO diperlakukan berbeda dengan produk minyak nabati laindi Uni Eropa.  Wamendag menilai penerimaan EFTA terhadap produk kelapa sawit Indonesia menunjukkan penolakan tidak dilakukan oleh semua negara Eropa. Dia menyebut, beberapa negara saja di Eropa yang kebetulan memiliki pengaruh di parlemen yang menghambat CPO.

“Lietchtenstein, Swiss, Norwegia dan Islandia menambah deretan negara-negara Eropa yang sebenarnya menerima kelapa sawit kita. Kalau kita bertemu dengan pemerintah maupun parlemen di banyak negara Eropa sebenarnya memang menunjukkan sambutan yang positif," kata Wamendag, Sabtu (8/5/2021). Dengan tren ini, dia optimistis dengan perjuangan menghapus diksriminasi terhadap PO. Dia mendorong negara-negara Uni Eropa harus melihat persoalan sawit dengan obyektif dan proporsional. Kebutuhan minyak nabati semakin besar di seluruh dunia, sehingga tak semua sumber minyak nabati bisa memenuhi kebutuhan dengan efisien seperti sawit.

“Jadi sebenarnya produk kelapa sawit kita itu sudah melewati berbagai standarisasi dan penjaminan mutu produk serta dampaknya dalam berbagai sisi. Banyak sertifikasi yang harus dipenuhi dan itu tidak mudah karena melibatkan berbagai Lembaga yang kompeten.” ucapnya. Dia berharap parlemen dan eksekutif Uni Eropa melihat dengan kerangka yang lebih luas, bukan hanya dalam perspektif persaingan dagang. Dengan begitu, kelapa sawit justru memicu inovasi baru untuk menghasilkan minyak nabati yang makin baik dan murah. (IND)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD