IDXChannel—Selama ini fisioterapi identik dengan proses pemulihan setelah cedera. Orang biasanya baru mencari fisioterapis ketika mengalami keseleo, saraf kejepit, cedera olahraga, atau saat menjalani pemulihan setelah operasi.
Padahal fisioterapi tidak hanya berfungsi untuk rehabilitasi. Orang yang merasa sehat dan tidak sedang mengalami cedera juga bisa datang ke fisioterapis untuk mengecek kondisi tubuh sekaligus mencegah munculnya masalah di kemudian hari.
Chief Physiotherapist Physiorehab Simon Tri Prasetyo menjelaskan, masyarakat selama ini memang lebih banyak datang ketika sudah mengalami keluhan. Sementara fungsi fisioterapi untuk menjaga kondisi tubuh sebelum cedera atau untuk upaya pencegahan masih belum terlalu banyak diketahui.
“Memang peran fisioterapi itu ada tiga kan. Ada promotif, preventif, dan rehabilitatif,” ujar Simon saat ditemui di Physiorehab Clinic Meruya pada Selasa (6/10/2026).
Padahal, seseorang yang merasa sehat pun bisa melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi postur, pola gerak, hingga kekuatan ototnya.
Contohnya, seseorang yang rutin berolahraga bisa datang bukan karena sedang cedera, melainkan karena ingin mengetahui apakah ada bagian tubuh yang bekerja tidak seimbang.
Menurut Simon, pemeriksaan fisioterapi dapat membantu melihat kondisi tubuh secara lebih detail. Salah satunya adalah dengan mengukur kekuatan otot sekaligus melihat perbedaan antara sisi kanan dan kiri tubuh.
Bagi orang yang aktif berolahraga, pemeriksaan semacam ini bisa menjadi salah satu cara untuk mengetahui kondisi tubuh sebelum mengalami cedera.
Simon mengatakan, sebagian pasien justru mulai menyadari manfaat fisioterapi setelah sebelumnya datang karena cedera. Ia juga menekankan bahwa fisioterapi tidak sama dengan layanan pijat atau sport massage.
Penanganan diberikan berdasarkan hasil asesmen dan kebutuhan masing-masing orang.
“Kalau enggak perlu di-massage ya kita enggak perlu massage, karena kita bukan sport massage, kita bukan tempat pijat,” katanya.
Dalam penanganannya, fisioterapis dapat menggunakan berbagai metode sesuai kondisi pasien. Mulai dari manual therapy, massage atau release jika memang diperlukan, elektroterapi, dry needling, hingga exercise therapy.
Selain itu, latihan fisik juga disebut penting karena mengembalikan fungsi tubuh tidak cukup hanya dengan mengurangi rasa sakit. Misalnya saat seseorang yang mengalami keseleo pada kaki.
Setelah cedera, kekuatan kaki yang cedera bisa saja tidak lagi sama dengan sisi lainnya. Jika hanya mendapatkan pijatan lalu pulang, masalah pada kekuatan otot belum tentu terselesaikan.
Karena itu, fisioterapi juga dapat mencakup latihan untuk mengembalikan kekuatan, power, dan fungsi tubuh agar seseorang bisa kembali beraktivitas secara optimal.
Bagi orang yang tidak sedang mengalami cedera, fisioterapi dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi tubuh. Terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas fisik tinggi, rutin berolahraga, atau ingin mengetahui apakah tubuhnya memiliki ketidakseimbangan tertentu.
Pemeriksaan dapat dimulai dengan melihat postur, gerakan, dan kekuatan otot. Dari hasil asesmen, fisioterapis dapat memberikan rekomendasi sesuai kebutuhan, termasuk latihan yang dapat dilakukan untuk menjaga fungsi tubuh.
(Nadya Kurnia)