AALI
8400
ABBA
590
ABDA
0
ABMM
1200
ACES
1290
ACST
248
ACST-R
0
ADES
2800
ADHI
905
ADMF
7700
ADMG
216
ADRO
1500
AGAR
356
AGII
1395
AGRO
2570
AGRO-R
0
AGRS
228
AHAP
70
AIMS
336
AIMS-W
0
AISA
202
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
590
AKRA
4130
AKSI
414
ALDO
730
ALKA
254
ALMI
238
ALTO
324
Market Watch
Last updated : 2021/09/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
460.94
0.12%
+0.54
IHSG
6144.82
0.03%
+2.10
LQ45
866.25
0.09%
+0.74
HSI
24192.16
-1.3%
-318.82
N225
30248.82
2.06%
+609.42
NYSE
0.00
-100%
-16352.18
Kurs
HKD/IDR 1,828
USD/IDR 14,245
Emas
803,749 / gram

Geser China, Kini Australia Jadi Penghasil Emas Terbesar Dunia

ECOTAINMENT
Nanang Wijayanto
Rabu, 15 September 2021 09:22 WIB
Saat ini, China tak lagi menjadi negara penghasil emas terbesar di dunia.
Geser China, Kini Australia Jadi Penghasil Emas Terbesar Dunia (FOTO:MNC Media)

IDXChannel  - Saat ini, China tak lagi menjadi negara penghasil emas terbesar di dunia. Dilansir dari ABCNews Selasa (14/9), saat ini posisi pertama penghasil emas terbesar di dunia diduduki Australia. Meski begitu, peringkat tersebut bisa saja hanya bersifat sementara. 

Hal itu merupakan kabar baik perusahaan tambang emas Red5 yang sedang meningkatkan usaha untuk mulai menggali emas di lokasi King of the Hill di negara bagian Australia Barat. 

"Kami sudah memulai pembangunan fasilitas di bulan Oktober 2020 dan bila sesuai rencana, emas pertama ditambang dalam waktu 7-8 bulan," kata Direktur Pelaksana Red5 Mark Williams. 

Perusahaan tersebut membeli tambang emas empat tahun lalu. Kegiatan produksi dilakukan di masa yang tepat dengan harga emas dunia sekarang ASD1800 per satu ons. 

Sebagai informasi, China sudah menjadi penghasil emas terbesar di dunia sejak 2007 dan Australia berada di tempat kedua selama 10 tahun terakhir. Berdasarkan laporan Surbiton Associates, China memproduksi 153 ton emas di enam bulan pertama tahun 2021 sementara Australia memproduksi 157 ton. 

"Ini pertama kalinya terjadi (Australia melampaui produksi China)," kata Direktur Surbiton Associates Sandra Close. 

Dia mengungkapkan alasan mengapa produksi emas China menurun sehingga kalan dengan Australia. Menurutnya China mengalami beberapa masalah seperti beberapa pekerja tambang tewas dan sedang diselidiki. 

"Mari kita lihat apa yang terjadi dengan produksi emas dalam enam bulan ke depan baik di Australia dan di China," jelasnya. 

Dalam dua tahun terakhir, produksi emas Australia memang terus meningkat. Di tahun 2019-2020 sekitar 328 ton emas berhasil ditambang di Australia dengan jumlah produksi tertinggi dalam satu tahun. Tahun lalu mencatatkan produksi 321 ton dengan jumlah produksi terbesar kedua dunia. 

"Di Australia sebagian besar pertambangan emas memiliki skala kecil, berbeda dengan tambang-tambang emas di negara seperti Amerika Serikat," kata Dr. Close. "Ini yang membuat produksi lebih bervariasi," ungkapnya. 

Emas sudah lama dikenal sebagai aset yang paling aman untuk disimpan. Pada umumnya harga emas akan meningkat ketika tidak adanya stabilitas politik dan ekonomi di sebuah negara atau secara keseluruhan di dunia. 

"Emas adalah investasi paling aman bagi siapa saja di saat-saat yang sulit, di tengah berbagai kesulitan," kata Direktur Eksekutif The Perth Mint Richard Hayes. "Di tengah situasi Covid-19, dan berbagai masalah yang kita hadapi, permintaan akan emas dan perak melambung tinggi," kata dia. 

Namun terkadang situasi tidak sama. Harga emas dunia turun ketika pandemi Covid-19 mulai pertama kali terjadi di awal 2020. "Reaksi dunia ketika itu sangat negatif, dengan harga emas dunia di bulan Maret 2020 turun 11 persen," kata Direktur Penelitian Komoditi Tambang dan Energi dari Commonwealth Bank Australia Vivek Dhar. 

"Ketika itu pasar mencari tempat yang aman, yakni membeli dolar Amerika Serikat," ujarnya. Enam bulan kemudian harga emas mencapai titik tertinggi. "Kita memang melihat adanya tren naik turun karena sampai bulan Agustus tahun lalu, kita melihat harga emas terus naik dan pernah melampaui harga ASD2.000 per ons," kata dia. 

Sekarang harganya turun dan diperjualbelikan sekitar harga ASD1.800 per ons. "Jadi jelas sudah naik antara 20 sampai 25 persen dibandingkan dua tahun lalu," kata Dhar.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD