Ia menekankan perlunya kolaborasi antara berbagai pihak, mulai dari pemerintah, institusi kesehatan, unit pengelola darah, industri, komunitas pasien, hingga para donor. Menurut dr Lucia, masyarakat juga memiliki peran dalam membangun ekosistem plasma.
Karena itu, edukasi mengenai plasma dinilai penting agar publik memahami manfaat serta kebutuhan akan ketersediaannya. Ia berharap momentum International Plasma Awareness Week dapat menjadi ruang untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai plasma maupun PODP.
“Kesadaran publik yang kuat akan menjadi dasar dan menjadi pendorong utama dalam mendukung pengembangan ekosistem plasma dalam waktu yang panjang,” pungkasnya.
Dengan begitu, perjalanan plasma dari donor hingga dapat dimanfaatkan dalam terapi pasien tidak hanya menjadi urusan satu institusi. Ada rangkaian peran yang saling berkaitan untuk memastikan terapi berbasis plasma tetap tersedia bagi mereka yang membutuhkan.
(Nadya Kurnia)