sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Na Willa, Film Lebaran Besutan Sutradara Film Indonesia Terlaris, Intip Fakta Uniknya

Ecotainment editor Armydian Kurniawan
25/03/2026 13:57 WIB
Na Willa meraup 300.000 lebih penonton sejak penayangannya pada 18 Maret 2026.
Na Willa, Film Lebaran Besutan Sutradara Film Indonesia Terlaris, Intip Fakta Uniknya. (Foto: Visinema)
Na Willa, Film Lebaran Besutan Sutradara Film Indonesia Terlaris, Intip Fakta Uniknya. (Foto: Visinema)

IDXChannelNa Willa, film Lebaran besutan sutradara Jumbo, Ryan Adriandhy, telah tayang di bioskop Indonesia sejak 18 Maret 2026 silam. Hingga saat ini, film anak-anak tersebut telah meraup 334.758 penonton. 

Film ini mendapat respons positif dari penggemar sinema dengan rating sebesar 8,6 di laman Cinepoint dan 7,9 di IMDb. Na Willa juga diekspektasikan mampu menyaingi kesuksesan film besutan Ryan Adriandhy sebelumnya, Jumbo. 

Sebagai pengingat, Jumbo juga dirilis sebagai film Lebaran dan mulai beredar di bioskop pada akhir Maret 2025. Film animasi anak-anak ini sukses menggeser Agak Laen dan menjadi film terlaris di Indonesia pada urutan pertama. 

Saat ini, Na Willa didistribusikan di seluruh Indonesia. Pada hari penayangan, tersedia lebih dari 1.600 show. Film ini hadir di 478 layar dan 445 bioskop nasional milik jaringan besar seperti Cinema XXI, CGV, dan Cinépolis. 

Film ini diangkat dari buku karya Reda Gaudiamo, mengisahkan tentang seorang gadis kecil berusia enam tahun bernama Na Willa dan bagaimana kehidupan kesehariannya sebagai anak kecil di sebuang gang kecil di Kota Surabaya. 

Na Willa menghadirkan dunia anak penuh imajinasi dan keajaiban. Cerita mengajak penonton melihat kembali dunia dari sudut pandang anak yang penuh dengan perspektif unik, rasa ingin tahu yang tulus, dan menyentuh. 

Di balik layar, sutradara Ryan Adriandhy menghadirkan kisah sederhana namun bermakna. Ia mengadaptasi novel karya Reda Gaudiamo dengan pendekatan emosional. Dunia warna-warni berpadu dengan detail kecil yang terasa hidup. 

Penonton dewasa seakan diajak kembali ke masa kanak-kanak. Sementara itu, anak-anak menemukan cermin imajinasi mereka sendiri. Narasi pun mengalir lembut tanpa kehilangan kekuatan cerita.

Kisah berpusat pada Na Willa, gadis enam tahun yang penuh imajinasi. Ia percaya gang kecil tempat tinggalnya menyimpan banyak keajaiban. Namun, perubahan datang saat teman-temannya mulai bersekolah. 

Perlahan, dunianya ikut berubah mengikuti realitas baru. Di titik ini, Na Willa belajar tentang bertumbuh dan merelakan. Meski demikian, rasa ingin tahu tetap ia jaga.

Dibuat oleh para kreator Film Jumbo yang telah sukses memeluk puluhan juta hati penonton Indonesia, Na Willa dibuat dengan proses yang juga menghargai kolaborasi para kru dan pemeran yang terlibat. 

Sutradara Ryan Adriandhy menceritakan salah satu pengalaman momen magis yang juga membuat banyak penonton bertanya-tanya bagaimana cara membuat adegan tersebut yang terasa menyenangkan.

“Kenapa natural dan berhasil magical? Karena shot itu lahir dari kolaborasi manusia. Shot itu lahir bukan dari keajaiban instan, tapi dari kolaborasi yang sangat manusiawi,” kenang Ryan.  

Salah satu yang juga terlihat sangat natural adalah adegan kue cucur. Ketika Na Willa dan salah satu temannya, Farida, masuk ke kamar Kakak Farida, Mbak Martini. Di momen itu, Farida dan Na Willa memakan kue cucur. 

Namun, di sisi lain, Mbak Martini tengah resah dengan rencana pernikahannya. Ryan menangkap potret kepolosan anak-anak dengan secara natural, melihat realitas yang dihadapi orang yang sudah lebih besar dari sudut pandang anak-anak.

Ryan juga menyuguhkan kebahagiaan dunia anak seperti saat Na Willa dan geng Krembangan, teman-temannya, saat bermain di tanah lapang yang mungkin saat ini jarang ditemui sehingga menimbulkan nostalgia. Momen-momen keajaiban juga ditampilkan oleh Ryan dengan berbagai elemen benda mati yang terasa hidup, seperti debu-debu kasur yang menyerupai kerlip bintang, air hujan yang tampak sparkling, atau buku-buku di ruang kelas yang beterbangan.

Film ini dibintangi Luisa Adreena, Freya Mikhayla, dan Azamy Syauqi. Nama lain seperti Arsenio Rafisqy dan Irma Rihi turut memperkuat cerita. Junior Liem hingga Ira Wibowo juga hadir memberi kedalaman emosi.

Antusiasme penonton terlihat sejak special screening hingga gala premiere. Sutradara Riri Riza menilai film ini memiliki kedekatan emosional yang kuat. “Filmnya dekat dengan perasaan dan sangat menyenangkan,” ujarnya. 

Ia juga menyebut formula film anak ini terasa tepat. Hal senada diungkapkan oleh host dan aktor Reza Chandika. “Seperti rest area terbaik untuk orang dewasa,” katanya.

Di sisi lain, Ryan Adriandhy menekankan pentingnya kolaborasi manusia dalam produksi. Ia menolak penggunaan kecerdasan buatan generatif dalam proses kreatif. “Semua lahir dari kolaborasi manusia, bukan keajaiban instan,” ucapnya. 

Setiap adegan dibangun melalui imajinasi aktor dan ketelitian kru. Hasilnya terlihat pada momen-momen kecil yang terasa hidup. Misalnya, debu kasur menyerupai kerlip cahaya yang memikat.

Musik turut memperkuat emosi dalam film ini. Lagu “Sikilku Iso Muni” karya Laleilmanino menjadi bagian penting dari cerita. Lagu tersebut dinyanyikan oleh Luisa Adreena dan Azamy Syauqi. Komposer Ofel Obaja menyatukan musik dengan narasi visual. 

“Musik menjadi cara kami bercerita,” kata Ryan. Melalui pendekatan ini, film terasa semakin hidup dan menyentuh.

(Nadya Kurnia)

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement