AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
17132.22
0.29%
+49.07
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
813,779 / gram

Berbasis Investasi Hijau, Diyakini Jadi Solusi Bisnis Usai Pandemi Covid-19

IDXTAINMENT
Fahmi Abidin
Selasa, 16 Juni 2020 11:30 WIB
Menurut Inisiatif Dagang Hijau (IDH), Investasi Hijau bisa menjadi solusi perbaikan ekonomi pasca pandemi covid-19.
Berbasis Investasi Hijau, Diyakini Jadi Solusi Bisnis Usai Pandemi Covid-19. (Foto: Ist)
Berbasis Investasi Hijau, Diyakini Jadi Solusi Bisnis Usai Pandemi Covid-19. (Foto: Ist)

IDXChannel – Meski berada di tengah pandemi, investasi hijau mendorong para pelaku usaha untuk tetap bisa menjaga rantai pasok berkelanjutan dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Menurut Inisiatif Dagang Hijau (IDH) hal tersebut bisa menjadi solusi perbaikan ekonomi pasca covid-19.

“Kami melihat momentum pandemi ini semakin menguatkan keberadaan bisnis berbasis investasi hijau di Tanah Air," kata Ketua Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH) Fitrian Ardiansyah, diskusi virtual bertajuk 'Investasi Hijau pada Model Bisnis Komoditas Berkelanjutan: ketahanan Rantai Pasok pada Era pascapandemi' di Jakarta, pekan lalu.

Sekadar diketahui, bahwa investasi hijau merupakan kategori bisnis yang akan terus berkembang karena memberikan ruang untuk memperkuat sistem dan daya dukung sistem agribisnis.

"Model bisnis ini memberikan ruang bagi perusahaan untuk memperkuat sistem dan daya dukung mulai dari ketersediaan pasokan, perbaikan kualitas barang/komoditas, dan kepastian berbisnis untuk jangka panjang," kata Bangkit, dalam sebuah seminar daring atau webinar.

Sementara itu, pihak Investment Associate Tropical Landscapes Finance Facility (TLFF) Bangkit Oetomo menilai, TLFF telah melihat dua parameter utama dalam melakukan pendanaan, yaitu dari sisi komersial dan pemberian dampak sosial serta lingkungan. Atas hal tersebut, ada prosedur due diligence dalam menganalisis potensi bisnis.

Sementara itu melirik potensi lainnya dari model bisnis ini adalah pembangunan model bisnis yang inklusif seperti mendesain model untuk kerjasama antara sektor swasta dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Bahkan terdapat potensi bisnis pasca pandemi seperti pemberian kredit penanaman kembali (replanting) bagi petani, untuk meningkatkan ketahanan sumber mata pencaharian di daerah untuk dapat kembali berproduksi dan menyalurkan produknya ke kawasan komersial.

Sejurus dengan yang diungkapkan Fitrian, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Purwadi Soeprihanto mengatakan bahwa investasi hijau adalah model bisnis yang mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan karena selama ini baru kayu hasil hutan saja yang banyak dimanfaatkan.

“Berdasarkan riset potensinya sekitar 5 persen. Masih ada 95 persen potensi hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan yang belum dimanfaatkan,” kata Purwadi.

Oleh karena itu, model bisnis investasi hijau diharapkan tidak hanya memberikan keuntungan bagi pengusaha, melainkan berdampak pada pemberdayaan petani/nelayan selaku pelaku di sektor hulu. Model bisnis ini juga memastikan perlindungan lingkungan. (*)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD