AALI
9300
ABBA
278
ABDA
0
ABMM
2470
ACES
690
ACST
161
ACST-R
0
ADES
6225
ADHI
775
ADMF
8200
ADMG
175
ADRO
3130
AGAR
312
AGII
2310
AGRO
855
AGRO-R
0
AGRS
119
AHAP
107
AIMS
248
AIMS-W
0
AISA
146
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1620
AKRA
1200
AKSI
274
ALDO
770
ALKA
300
ALMI
290
ALTO
194
Market Watch
Last updated : 2022/08/05 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
536.59
0.44%
+2.37
IHSG
7084.66
0.39%
+27.31
LQ45
1007.80
0.4%
+4.03
HSI
20201.94
0.14%
+27.90
N225
28175.87
0.87%
+243.67
NYSE
0.00
-100%
-15267.16
Kurs
HKD/IDR 545
USD/IDR 14,925
Emas
858,734 / gram

Berbasis Investasi Hijau, Diyakini Jadi Solusi Bisnis Usai Pandemi Covid-19

IDXTAINMENT
Fahmi Abidin
Selasa, 16 Juni 2020 11:30 WIB
Menurut Inisiatif Dagang Hijau (IDH), Investasi Hijau bisa menjadi solusi perbaikan ekonomi pasca pandemi covid-19.
Berbasis Investasi Hijau, Diyakini Jadi Solusi Bisnis Usai Pandemi Covid-19. (Foto: Ist)
Berbasis Investasi Hijau, Diyakini Jadi Solusi Bisnis Usai Pandemi Covid-19. (Foto: Ist)

IDXChannel – Meski berada di tengah pandemi, investasi hijau mendorong para pelaku usaha untuk tetap bisa menjaga rantai pasok berkelanjutan dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Menurut Inisiatif Dagang Hijau (IDH) hal tersebut bisa menjadi solusi perbaikan ekonomi pasca covid-19.

“Kami melihat momentum pandemi ini semakin menguatkan keberadaan bisnis berbasis investasi hijau di Tanah Air," kata Ketua Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH) Fitrian Ardiansyah, diskusi virtual bertajuk 'Investasi Hijau pada Model Bisnis Komoditas Berkelanjutan: ketahanan Rantai Pasok pada Era pascapandemi' di Jakarta, pekan lalu.

Sekadar diketahui, bahwa investasi hijau merupakan kategori bisnis yang akan terus berkembang karena memberikan ruang untuk memperkuat sistem dan daya dukung sistem agribisnis.

"Model bisnis ini memberikan ruang bagi perusahaan untuk memperkuat sistem dan daya dukung mulai dari ketersediaan pasokan, perbaikan kualitas barang/komoditas, dan kepastian berbisnis untuk jangka panjang," kata Bangkit, dalam sebuah seminar daring atau webinar.

Sementara itu, pihak Investment Associate Tropical Landscapes Finance Facility (TLFF) Bangkit Oetomo menilai, TLFF telah melihat dua parameter utama dalam melakukan pendanaan, yaitu dari sisi komersial dan pemberian dampak sosial serta lingkungan. Atas hal tersebut, ada prosedur due diligence dalam menganalisis potensi bisnis.

Sementara itu melirik potensi lainnya dari model bisnis ini adalah pembangunan model bisnis yang inklusif seperti mendesain model untuk kerjasama antara sektor swasta dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Bahkan terdapat potensi bisnis pasca pandemi seperti pemberian kredit penanaman kembali (replanting) bagi petani, untuk meningkatkan ketahanan sumber mata pencaharian di daerah untuk dapat kembali berproduksi dan menyalurkan produknya ke kawasan komersial.

Sejurus dengan yang diungkapkan Fitrian, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Purwadi Soeprihanto mengatakan bahwa investasi hijau adalah model bisnis yang mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan karena selama ini baru kayu hasil hutan saja yang banyak dimanfaatkan.

“Berdasarkan riset potensinya sekitar 5 persen. Masih ada 95 persen potensi hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan yang belum dimanfaatkan,” kata Purwadi.

Oleh karena itu, model bisnis investasi hijau diharapkan tidak hanya memberikan keuntungan bagi pengusaha, melainkan berdampak pada pemberdayaan petani/nelayan selaku pelaku di sektor hulu. Model bisnis ini juga memastikan perlindungan lingkungan. (*)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD