Sementara dari sisi produksi, kapasitas yang masih berada pada skala menengah membuat perusahaan membutuhkan waktu lebih panjang untuk memenuhi permintaan dalam jumlah besar.
Andri mencontohkan, permintaan di atas 10–20 ton berpotensi membutuhkan waktu produksi sekitar dua hingga tiga bulan. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri ketika calon pembeli mengharapkan pengiriman dalam waktu lebih singkat.
Di tengah proses tersebut, Andri menilai TEI 2026 menjadi salah satu kesempatan bagi perusahaan untuk bertemu langsung dengan calon pembeli dari luar negeri. Dengan dukungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Coko Cacao Company berpartisipasi dalam TEI 2026 untuk memperkenalkan produk sekaligus menjajaki peluang pasar internasional.
Lebih lanjut, pertemuan Coko Cacao dengan buyer, lanjut Andri, menjadi langkah awal bagi perusahaan untuk mengenalkan produknya kepada pasar internasional. Meski masih perlu menyesuaikan kapasitas produksi dan memperluas jaringan pemasaran, respons dari calon pembeli memberikan gambaran mengenai peluang yang dapat dijajaki ke depan.
Di balik upaya memperluas pasar, hubungan dengan petani tetap menjadi bagian dari perjalanan bisnis Coko Cacao Company. Perusahaan mengandalkan pengetahuan dan pengalaman petani lokal dalam mengelola tanaman kakao, termasuk menjaga kondisi lahan dan kesuburannya.