AALI
12225
ABBA
194
ABDA
6250
ABMM
2950
ACES
985
ACST
159
ACST-R
0
ADES
6200
ADHI
715
ADMF
8075
ADMG
181
ADRO
3160
AGAR
332
AGII
2050
AGRO
920
AGRO-R
0
AGRS
124
AHAP
63
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1160
AKRA
1015
AKSI
374
ALDO
945
ALKA
308
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
0%
0.00
IHSG
6883.50
0%
0.00
LQ45
1009.51
0%
0.00
HSI
20697.36
2.89%
+581.16
N225
26781.68
1.44%
+378.84
NYSE
0.00
-100%
-15035.87
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,693 / gram

Cerita Eks Office Boy Jadi Pengusaha Sukses, dari Ayam Bakar Kini Bisnis Travel

INSPIRATOR
Tim IDXChannel
Rabu, 21 Juli 2021 07:09 WIB
A Pramono atau Mas Mono berbagi kisah saat dirinya merintis usaha ayam bakar Mas Mono yang dulunya pernah bekerja sebagai office boy.
Cerita Eks Office Boy Jadi Pengusaha Sukses, dari Ayam Bakar Kini Bisnis Travel. (Foto: MNC Media)
Cerita Eks Office Boy Jadi Pengusaha Sukses, dari Ayam Bakar Kini Bisnis Travel. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - A Pramono atau Mas Mono berbagi kisah saat dirinya merintis usaha ayam bakar Mas Mono. Awalnya,  pria kelahiran Madiun tersebut membuka usaha ayam goreng di seberang Universitas Sahid, Saharjo, Jakarta Selatan.

Dari 5 ekor meningkat menjadi 10 ekor, begitu seterusnya hingga mampu menjual ayam bakar 80 ekor per hari atau sekitar 380 potong.

“Orang tidak tahu dan mungkin tidak mau tahu, ketika memulai usaha ini saya harus ke pasar jam tiga dini hari. Jam empat subuh sudah menyalakan kompor, ketika kebanyakan orang masih tidur,” katanya, Rabu (20/7/2021).

Dirinya mengaku mengadu nasib ke Ibu Kota Jakarta, setelah sebelumnya bekerja sebagai office boy di sebuah perusahaan swasta. Lalu beralih menjadi pedagang ayam bakar di pinggir jalan dengan nama Ayam Bakar Mas Mono.

Ada pengalaman unik, kata Mas Mono. Ketika pernah suatu ketika ayam dagangan jatuh ke pasir. Terpaksa ayam tersebut harus dibersihkan dulu.

“Kalau orang lain mungkin sudah mikir macam-macam mungkin tanda sepi, kena sial karena baru mau jualan ayamnya sudah jatuh. Saya justru berpikir lain. Pertanda bagus, dagangan saya bakal laku,” ujarnya.

Setelah hampir 10 tahun berlalu, akhirnya sukses pun menghampiri. Dari satu cabang yang didirikannya kini sudah beranak pinak menjadi 20 cabang yang tersebar di berbagai wilayah di Jadetabek seperti Kalimalang, Pondok Gede, Ciledug dan daerah lainnya.

Diakuinya, satu hari di setiap cabangnya bisa menghabiskan sekitar 150-200 ekor ayam.

Tempatnya sudah dtata menjadi tradisional-modern. Bahkan, ia bercita-cita ingin menjadikan ayam bakar ini sebagai market leader di dunia kuliner.

Sukses dengan ayam bakar, Mas Mono merambah ke bisnis lainnya seperti bakso, catering, travel umroh & haji dan lain-lain.

Dia mengambil segmen semua lapisan masyarakat, jadi tempatnya bisa disinggahi siapapun. Sehari bisa 200 orang atau lebih yang berkunjung. Harganya pun cukup murah. Ia telah memiliki ratusan karyawan.

Bisnis ayam bakar yang dikelolanya kini sudah dikembangkan ke franchise. Dalam waktu dekat, ia pun berencana akan mengembangkan konsep franchisenya ke berbagai daerah bahkan menembus pasar internasional.

Untuk sementara, ia fokuskan untuk merambah Jakarta dulu. Ke depan ia akan kembangkan lagi ke berbagai wilayah. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD