"Di sana sebagian besar warganya berprofesi sebagai pengupas kerang. Banyak sekali anak-anak putus sekolah. Aku juga baru pertama kali melihat sisi Jakarta yang seperti itu dan enggak nyangka ternyata masih ada tempat seperti itu," tuturnya.
Perjuangan mendirikan sekolah di lokasi tersebut pun diakui Andien tidak mudah. Pihaknya membutuhkan waktu pendekatan persuasif hingga satu tahun penuh kepada warga setempat.
"Sebenarnya ini sudah dari tahun lalu, dan PDKT-nya itu setahun untuk kita bisa menyelenggarakan proses belajar-mengajar di kampung tersebut. Bener-bener Oktober tahun lalu, dan baru terselenggara di Oktober tahun ini," imbuh Andien.
Bagi Andien, pendidikan merupakan senjata utama untuk memutus mata rantai kemiskinan struktural yang kerap menjerat anak-anak di perkampungan marginal tersebut.
"Kesulitan yang ada di sana, kemiskinan di sana, rantainya sulit terputus karena sudah struktural dan menurun. Aku merasa pendidikan bisa jadi jalan keluar agar mereka bisa bermimpi punya profesi lain selain yang selama ini digeluti," pungkasnya.
(Nadya Kurnia)