Karena pandemi itu, booth foto Photomatic harus buka-tutup operasional karena mengikuti kebijakan pembatasan sosial dari pemerintah. Untungnya, saat itu bisnis Photomatic belum lama berekspansi secara ritel.
Sehingga tidak banyak fixed cost yang harus dibayarnya, apalagi saat itu dia baru membuka satu cabang. Karyawannya pun belum banyak. Setelah pandemi lewat, Photomatic makin berkembang.
“Karena produknya unik dan tidak banyak kompetitor, banyak orang ngeshare TikTok foto di booth kami, jadi kami banyak dapat promosi gratis di sana dan ada konten yang sampai jutaan views,” lanjut Rafif.
Saat ini, bisnis Photomatics masih beroperasi, bahkan telah berhasil membuka 100 cabang. Rafif kini menjadi CEO di bisnisnya sendiri di usia muda.
Itulah kisah sukses bisnis photobox.
(Nadya Kurnia)