Martha rela mendatangi rumah para mantan dosennya untuk mendandani istri-istri mereka, sambil membagikan brosur sederhana untuk mempromosikan usahanya. Dia bahkan sempat membuka jasa babysitter di sela-sela waktunya sebagai perias.
Pada 1969, Martha dan suami kembali ke Indonesia. Dia langsung membuka salon kecil di garasi rumah ayahnya, ukurannya tidak besar, hanya 6 x 4 meter saja. Modal dia peroleh dari tabungan selama di AS, ditambah bantuan dari ayah dan adik-adiknya.
Salon itu resmi dibuka pada 3 Januari 1970. Pelan tapi pasti, usahanya berkembang. Pelayanan yang memuaskan membuat pelanggan betah, bahkan peragawati dan istri para pejabat pun berlangganan di salonnya.
Tak lama kemudian, Martha membuka salon kedua di Cipete, Kebayoran Baru. Di masa yang sama, ia mulai memakai merek dagang Sariayu Martha Tilaar.
Merambah ke Produksi Jamu, Menggandeng Kalbe Farma
Tahun 1972, Martha terbang ke Eropa untuk mendalami ilmu ramu-ramuan. Sepulangnya, ia mendirikan Martha Griya Salon yang berfokus pada perawatan tradisional. Demi memperkaya pengetahuan soal peramuan jamu, ia bahkan mendatangi para dukun beranak.