AALI
9950
ABBA
0
ABDA
0
ABMM
780
ACES
1515
ACST
280
ACST-R
0
ADES
1675
ADHI
1065
ADMF
8250
ADMG
163
ADRO
1185
AGAR
448
AGII
1190
AGRO
1005
AGRO-R
0
AGRS
320
AHAP
77
AIMS
284
AIMS-W
0
AISA
288
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
456
AKRA
3130
AKSI
800
ALDO
675
ALKA
238
ALMI
226
ALTO
326
Market Watch
Last updated : 2021/04/16 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
483.36
-0.1%
-0.50
IHSG
6086.26
0.11%
+6.76
LQ45
907.67
-0.08%
-0.77
HSI
28969.71
0.61%
+176.57
N225
29642.69
0.07%
+21.70
NYSE
16116.85
0.73%
+116.70
Kurs
HKD/IDR 1,884
USD/IDR 14,643
Emas
831,440 / gram

Mengenal Jakob Oetama: Hidup sebagai Wartawan hingga Ditawari Menteri oleh Soeharto

INSPIRATOR
Shifa Nurhaliza
Rabu, 09 September 2020 16:30 WIB
Kabar duka datang dari dunia pers, tokoh sekaligus pendiri Kompas Gramedia Group Jakob Oetama meninggal dunia.
Mengenal Jakob Oetama: Hidup sebagai Wartawan hingga Ditawari Menteri oleh Soeharto. (Foto: Ist)

IDXChannel - Kabar duka datang dari dunia pers, tokoh sekaligus pendiri Kompas Gramedia Group Jakob Oetama meninggal dunia di usia 88 tahun di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta. Pria kelahiran 27 September 1931, di Desa Jowahan, Jawa Tengah, itu mengabdikan dirinya sebagai insan pers dan menjalani hidup sebagai wartawan.

Seperti diketahui, Jakob Oetama mengawali kariernya sebagai redaktur mingguan Penabur di Jakarta pada 1955. Kemudian ia bersama dengan PK Ojong, mendirikan majalah bulanan Intisari pada 1963 dan Harian Kompas pada 1965.

Didirikannya Surat Kabar Kompas, diungkapkan Jakob Oetama yakni sebagai pilihan alternatif dari banyaknya media partisan yang terbentuk dari kondisi politik Indonesia pasca Pemilu 1995.

Nama Kompas sendiri merupakan pemberian dari Presiden Soekarno yang berarti penunjuk arah. Sebelumnya, nama yang akan dipilih adalah ‘Bentara Rakyat’ yang berarti koran itu ditujukan untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat rakyat dengan moto yang dipilih “Amanat Penderitaan Rakyat”.

Dari perkembangan Kompas inilah, kemudian Jakob Oetama mendirikan kelompok usaha Kompas Gramedia dan ia bertanggung jawab atas editorial sedangkan Ojong bertanggung jawab atas bisnis.

Duo Jakob dan Ojong dikenal sebagai individu yang selalu menanamkan pentingnya nilai kemanusiaan dan etika jurnalistik yang tinggi. Karena pengembangan bisnis harus sejalan dengan kepercayaan pembacanya.

Pada 1980, setelah 15 tahun Bersama PK Ojong mengembangkan Kompas, Ojong meninggal dunia. Dimana hal ini membuat Jakob yang awalnya hanya berfokus pada editorial harus mengurus Kompas dalam aspek bisnis juga. Dengan sifat penuh kerendahan hati, akhirnya Jakob berhasil mengembangkan Kompas Gramedia Group ke berbagai lini bisnis tidak hanya media saja.

Melirik dari sisi lainnya, Jakob Oetama pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Anggota DPR Utusan Golongan Pers, Pendiri dan Anggota Dewan Kantor Berita Nasional Indonesia, Anggota Dewan Penasehat PWI, Anggota Dewan Federation Internationale Des Editeurs De Journax (FIEJ), Anggota Asosiasi Internasional Alumni Pusat Timur Barat Honolulu, Hawai.

Ia juga pernah mendapat tawaran menjadi menteri di era pemerintah Soeharto, namun dengan tegas ia mengatakan bahwa jalan hidupnya adalah sepenuhnya sebagai wartawan. (*)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD