Meskipun porsi energi terbarukan meningkat, batu bara masih menjadi komponen utama dalam bauran energi nasional, dengan porsi sekitar 73 persen pada 2026 dan diperkirakan tetap sekitar 52 persen pada 2034. Hal ini menunjukkan batu bara masih akan berperan penting dalam menjaga keandalan pasokan listrik dalam jangka menengah serta mendukung keberlanjutan permintaan atas batu bara dan jasa pendukungnya.
Manajemen SINI menambahkan, perseroan dalam menjalankan kegiatan usahanya sebagai perusahaan holding berupaya meningkatkan kinerja secara berkelanjutan, meningkatkan ketahanan bisnis jangka panjang, dan meningkatkan nilai perusahaan bagi para pemegang saham dimasa mendatang melalui aktivitas investasi pada bidang usaha yang memiliki potensi pertumbuhan usaha.
"Dengan mempertimbangkan hal-hal di atas akan tingginya permintaan akan kebutuhan batu bara untuk jangka waktu ke depan baik dari pasar domestik maupun luar negeri, perseroan berencana untuk menambah dan meningkatkan investasi pada perusahaan yang bergerak pada bidang usaha pertambangan batu bara, yakni melalui rencana pengambilalihan KMS selaku perusahaan holding yang memiliki perusahaan anak di bidang batu bara," ujar manajemen SINI.
Sebagai informasi, SINI berencana melakukan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 721.500.000 saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham. Sehingga, nilai maksimal mencapai Rp72,15 miliar.
Perseroan berencana menggunakan dana yang diperoleh tersebut untuk mengambil alih sebanyak 507.380.875 saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) dari PT Petrosea Tbk (PTRO).
Nilai dari rencana pengambilalihan KMS adalah sebesar Rp1,73 triliun. Nilai ini sebesar 110,27 persen dari jumlah aset perseroan.
(Dhera Arizona)