Sementara itu, perusahaan yang masih berada dalam ekosistem Merdeka, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), juga dikabarkan tengah mempertimbangkan penjualan depositary receipts di Hong Kong.
AMMN sendiri telah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak Juli 2023. Pergerakan sahamnya belakangan mendapat dorongan dari penguatan harga tembaga yang mencetak rekor tertinggi.
Setelah menyentuh level terendah dalam hampir tiga tahun pada Mei 2026, saham AMMN telah rebound sekitar 66 persen. Meski demikian, secara year to date saham tersebut masih terkoreksi lebih dari 25 persen.
Dengan level kapitalisasi pasar sekitar Rp350 triliun, AMMN menjadi salah satu perusahaan tambang dengan valuasi terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). (Aldo Fernando)