sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Analis: Informasi Valid dan Kinerja Fundamental Jadi Acuan Investor di Tengah Dinamika Pasar

Market news editor Nia Deviyana
30/09/2026 16:52 WIB
Investor perlu mencermati informasi material berdasarkan sumber resmi perusahaan, terutama ketika muncul rumor yang berpotensi memengaruhi persepsi pasar.
Analis: Informasi Valid dan Kinerja Fundamental Jadi Acuan Investor di Tengah Dinamika Pasar. Foto: iNews Media Group.
Analis: Informasi Valid dan Kinerja Fundamental Jadi Acuan Investor di Tengah Dinamika Pasar. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Dinamika pasar modal yang diwarnai beragam informasi mengenai aksi korporasi membuat keterbukaan informasi dan kondisi fundamental semakin penting menjadi rujukan investor. 

Menurut Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, investor perlu mencermati informasi material berdasarkan sumber resmi perusahaan, terutama ketika muncul rumor yang berpotensi memengaruhi persepsi pasar.

Menurut Nafan, konfirmasi resmi perusahaan atas sebuah kabar penting diperhatikan investor, agar dapat membedakan informasi terverifikasi dengan spekulasi di pasar. 

“Investor perlu membedakan informasi material yang telah dikonfirmasi dengan spekulasi pasar,” kata Nafan, Rabu (30/9/2026).

Sifat hati-hati tersebut penting dimiliki investor, salah satunya dalam melihat fakta di balik aktivitas perdagangan di pasar. Menurut Nafan, tidak semua transaksi di bursa bisa dikaitkan dengan aksi korporasi tertentu, apalagi jika tak ada analisis lebih lanjut atas hal tersebut.

“Lebih tepat melihat transaksi sebagai aktivitas perdagangan yang perlu ditelusuri berdasarkan pihak yang bertransaksi, harga, volume, dan keterbukaan informasi terkait, bukan semata-mata dari nilai transaksi agregatnya,” kata Nafan.

Nafan mengingatkan investor agar selalu menggabungkan beberapa sumber informasi sebelum menarik kesimpulan mengenai kondisi suatu perusahaan. 

Apabila investor mengacu pada informasi resmi serta mencermati kinerja fundamental emiten, mereka dapat menempatkan berbagai sentimen pasar dalam konteks lebih utuh.

Menurut Nafan, fundamental emiten merupakan salah satu indikator kunci untuk melihat sehat atau tidaknya sebuah perusahaan, terlebih jika hendak dijadikan opsi investasi oleh pelaku pasar. Analisis terhadap fundamental perusahaan penting dilakukan terlebih apabilainvestor memilih emiten perbankan sebagai tujuan berinvestasi.

“Di tengah tantangan ekonomi dan fluktuasi pasar, indikator utama seperti pertumbuhan kredit, profitabilitas, kualitas aset, dan dana murah masih memberikan gambaran bahwa fundamental perusahaan tetap terjaga,” kata Nafan.

Salah satu emiten perbankan yang beberapa hari terakhir kerap diperbincangkan adalah PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Pembicaraan terkait BCA kerap menyita perhatian investor, apalagi beberapa waktu lalu perusahaan ini dirumorkan akan diakuisisi oleh pengusaha asal Kalimantan, Haji Isam.

Nafan menilai, dari sisi fundamental, BCA masih menunjukkan ketahanan cukup kuat. Salah satu buktinya, pada semester I 2026 emiten tersebut meraih laba bersih Rp29,5 triliun. Pada periode yang sama, penyaluran kredit tumbuh 8 persen secara tahunan menjadi Rp1.036 triliun.

Nafan juga menyoroti struktur pendanaan BCA yang sehat dan kuat, ditopang dana murah atau CASA yang jumlahnya mencapai 84,3 persen dari total dana pihak ketiga perseroan.

Hingga paruh pertama 2026, CASA BCA meningkat 10,2 persen menjadi Rp1.082 triliun. Kemudian, dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau NPL BCA berada di level 1,9 persen, sementara Loan at Risk (LAR) tercatat 4,9 persen. 

Sebagai pengingat, beberapa tahun terakhir BCA konsisten membukukan pertumbuhan laba bersih. Pada 2024, laba bersih BCA mencapai Rp54,8 triliun atau tumbuh 12,7 persen secara tahunan. Setahun setelahnya, laba bersih naik 4,9 persen menjadi Rp57,5 triliun. 

Pertumbuhan tersebut diikuti kenaikan penyaluran kredit dari Rp922 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp993 triliun per akhir 2025.

Tak hanya mencatat kinerja positif, BCA juga rutin melakukan aksi pembelian kembali saham (buyback). BCA telah menyatakan melakukan buyback dengan nilai maksimal Rp5 triliun sejak 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027.

Menurut Nafan, buyback merupakan salah satu cara manajemen perusahaan membantu menjaga stabilitas harga saham, sekaligus menunjukkan keyakinan terhadap fundamental perseroan. 

“Ini sebagai salah satu mekanisme stabilisasi dan bentuk pengelolaan modal yang dapat membantu menjaga kepercayaan investor ketika volatilitas meningkat,” ujarnya

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement