IDXChannel - Harga emas dunia diproyeksikan melanjutkan penguatan pada perdagangan pekan ini setelah mencatat reli lebih dari 7 persen sepanjang pekan lalu, didukung ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Mengacu pada data perdagangan Jumat (7/8/2026) lalu, harga emas spot melonjak 2,39 persen menjadi USD4.341,93 per troy ons.
Harga emas bahkan sempat melesat lebih dari 3 persen dan menyentuh level tertinggi sejak 17 Juni 2026.
Secara mingguan, harga emas menguat 7,34 persen. Kenaikan tersebut menjadi kinerja mingguan terbaik sejak pekan yang berakhir pada 19 Januari 2026.
Lonjakan harga emas terjadi setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan yang jauh lebih besar dari perkiraan pasar.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga, sehingga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas pasar terhadap kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September kini berada di bawah 50 persen.
Padahal, sebelum rilis data ketenagakerjaan AS pada Jumat, peluang kenaikan suku bunga diperkirakan hampir mencapai 60 persen.
Sentimen bullish juga terlihat dari hasil survei mingguan Kitco News terhadap pelaku pasar.
Dari 19 analis Wall Street yang berpartisipasi, sebanyak 16 analis atau 84 persen memperkirakan harga emas kembali naik pada pekan ini.
Sementara itu, dua analis atau 11 persen memperkirakan harga emas turun dan satu analis atau 5 persen bersikap netral.
Optimisme serupa terlihat di kalangan investor ritel. Dari 241 responden dalam survei daring Kitco, sebanyak 166 orang atau 68,9 persen memperkirakan harga emas menguat pekan ini.
Sebanyak 37 responden atau 15,4 persen memperkirakan harga emas melemah, sementara 38 responden atau 15,8 persen bersikap netral.
Senior Market Strategist Forex.com James Stanley mengatakan dirinya masih bullish terhadap emas seiring ketidakpastian ekonomi yang membuat The Fed cenderung menahan diri.
Menurut dia, pergerakan emas di atas USD4.000 per troy ons membutuhkan waktu, tetapi tren akumulasi kembali menguat dan masih berpotensi berlanjut.
"Tren akumulasi kembali menguat, dan saya tidak memperkirakan hal itu berhenti," ujar Stanley.
Meski demikian, ruang kenaikan emas pada pekan ini berpotensi lebih terbatas.
Senior Market Analyst Barchart.com Darin Newsom mengatakan dirinya masih bullish terhadap emas, tetapi mengingatkan bahwa data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini dapat menjadi tantangan bagi reli logam mulia tersebut.
Data inflasi menjadi perhatian karena perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed dapat kembali memengaruhi pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang pada akhirnya berdampak terhadap daya tarik emas.
Di sisi lain, reli hampir 8 persen dalam sepekan juga membuka peluang terjadinya aksi ambil untung.
Kondisi tersebut berpotensi membuat pergerakan emas lebih volatil setelah harga mencatat lonjakan tajam dalam waktu singkat. (Aldo Fernando)