Pada kuartal I-2026, EBITDA Barito tumbuh 288 persen, yang mencapai rekor tertinggi kuartalan sebesar USD567 juta dengan margin 22,06 persen. Kinerja ini didorong oleh margin kilang yang kuat pada operasi Singapura yang ditopang oleh tingginya crack spread regional, optimalisasi bauran produk, serta disiplin dalam pengadaan bahan baku.
Sejalan dengan tujuan strategis, perseroan telah menuntaskan akuisisi jaringan SPBU Esso di Singapura yang terkonsolidasi dalam laporan keuangan kuartal I-2026. Akuisisi ini memperkuat ekosistem hilir melalui perluasan jaringan ritel serta pendalaman integrasi di sepanjang rantai nilai.
"Kami memperkirakan transaksi ini akan memberikan kontribusi positif terhadap laba sejak awal, didukung oleh arus kas yang solid, peningkatan margin, serta sinergi operasional dan komersial yang teridentifikasi," ujarnya.
Untuk segmen energi, Star Energy di bawah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terus memperkuat platform geotermalnya. Hal itu ditandai dengan penyelesaian retrofit Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Wayang Windu, sehingga meningkatkan kapasitas terpasang menjadi 962 MW.
Dari sisi bottom line, Barito membukukan laba bersih setelah pajak sebesar USD271 juta, tumbuh 803 persen secara tahunan. Sementara laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai USD90 juta, melesat 462 persen.