Di tengah penurunan kinerja secara akuntansi, arus kas BSDE masih solid dengan penerimaan kas dari pelanggan melesat 20 persen menjadi Rp2,74 triliun. Kenaikan penerimaan ini dimanfaatkan perseroan untuk menambah cadangan lahan (landbank). Pada kuartal I-2026, perseroan melakukan pembayaran untuk pembelian lahan sebesar Rp1,45 triliun, naik 143 persen secara tahunan.
Dengan begitu, arus dari aktivitas operasional negatif Rp654 miliar. Perseroan juga melakukan penarikan utang bank sebesar Rp2,73 triliun untuk mengamankan likuiditas.
Posisi keuangan BSDE sangat kuat dengan posisi kas dan setara kas mencapai Rp9,76 triliun, seiring konsistensi untuk memperkuat modal dari laba bersih setiap tahun. Kondisi ini memberikan fleksibilitas bagi BSDE untuk mengembangkan usaha, baik secara organik maupun nonorganik.
Pada 2024, BSDE melakukan akuisisi terhadap PT Suryamas Dutamakmur Tbk (SMDM) yang memiliki proyek Royal Tajur dan Rancamaya di Bogor, Jawa Barat. Nilai investasi itu mencapai Rp2,33 triliun untuk mengambil alih 91,99 persen saham SMDM.
BSDE juga memiliki liabilitas yang cukup tinggi sebesar Rp27,3 triliun dengan utang bank jangka panjang Rp14,3 triliun dan obligasi Rp3,1 triliun. Pada kuartal I-2026, perseroan membayar beban keuangan sebesar Rp403,7 miliar.