sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Bursa Asia Beragam, Investor Cerna Data Inflasi AS dan Gejolak Obligasi

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
01/10/2026 09:13 WIB
Bursa saham Asia beragam pada perdagangan Kamis (1/10/2026), seiring investor mencermati data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan.
Bursa Asia Beragam, Investor Cerna Data Inflasi AS dan Gejolak Obligasi. (Foto: TSE)
Bursa Asia Beragam, Investor Cerna Data Inflasi AS dan Gejolak Obligasi. (Foto: TSE)

IDXChannel – Bursa saham Asia beragam pada perdagangan Kamis (1/10/2026), seiring investor mencermati data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan serta tekanan yang masih membayangi pasar obligasi global.

Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang melemah 0,2 persen. KOSPI Korea Selatan turun 0,14 persen, sementara Nikkei Jepang menguat lebih dari 1 persen ditopang kenaikan saham-saham terkait chip.

Di kawasan regional, ASX 200 Australia melemah 1,53 persen, sedangkan STI Singapura naik tipis 0,08 persen.

Sementara itu, pasar keuangan China tutup pada 1-7 Oktober dalam rangka libur Hari Nasional dan akan kembali diperdagangkan pada Kamis (8/10). Bursa Hong Kong juga libur pada 1 Oktober.

Sentimen pasar Asia masih dibayangi tekanan di pasar obligasi global setelah September menjadi bulan yang berat bagi surat utang.

Di sisi lain, investor mencerna data inflasi AS yang menunjukkan kenaikan harga pada Agustus lebih rendah dari perkiraan.

Data tersebut mendorong pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober.

 Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada bulan ini turun menjadi 38 persen dari 50 persen sehari sebelumnya.

Ekspektasi tersebut turut didukung pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams yang mengatakan tidak melihat adanya urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga.

Namun, tekanan di pasar obligasi belum mereda. Imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun sempat menyentuh 5,306 persen, level tertinggi sejak Juni 2007.

Sementara yield Treasury 30 tahun berada di 5,634 persen setelah menyentuh 5,6517 persen pada sesi sebelumnya, level tertinggi sejak Juni 2002.

Kenaikan yield tersebut membuat investor tetap mewaspadai tingginya biaya modal, meskipun data inflasi yang lebih lunak memberi ruang bagi perubahan ekspektasi kebijakan The Fed.

"Angka Micron kembali mengonfirmasi kuatnya permintaan terhadap kecerdasan buatan (AI) dan memori. Namun, pasar mungkin mulai mempertanyakan apakah kelangkaan memori sudah mendekati puncaknya, meskipun permintaan masih lebih tinggi daripada pasokan," kata Chief Investment Strategist Saxo Charu Chanana, seperti dikutip Reuters.

Menurut dia, latar belakang makroekonomi juga semakin beragam.

Data ekonomi AS yang lebih lemah telah mengurangi tekanan terhadap ekspektasi The Fed dan yield jangka pendek, tetapi yield jangka panjang masih tinggi sehingga kekhawatiran mengenai biaya modal belum benar-benar hilang.

Dari pasar komoditas, tertahannya pembicaraan damai antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah selama tujuh bulan turut menjaga harga minyak tetap tinggi.

Kondisi tersebut menjadi faktor lain yang membatasi sentimen investor karena berpotensi kembali menambah tekanan inflasi.

Di pasar saham global, kontrak berjangka (futures) Nasdaq dan S&P 500 masing-masing menguat 0,3 persen. Sebaliknya, kontrak berjangka saham Eropa turun 0,75 persen pada awal perdagangan. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement