Langkah ini mendorong harga minyak melonjak menembus USD100 per barel pada awal perdagangan.
“Pasar sebenarnya tidak sepenuhnya berharap negosiasi akhir pekan akan berjalan mulus. Namun tetap saja, ini bukan kabar baik sehingga saham terkoreksi,” ujar analis Tokai Tokyo Intelligence Laboratory, Shuutaro Yasuda, dikutip Reuters.
Ia menambahkan, pelemahan tidak terlalu ekstrem karena sebagian pelaku pasar telah mengantisipasi risiko tersebut.
Di Korea Selatan, indeks KOSPI turun 1 persen, berbalik arah dari penguatan sebelumnya.
Tekanan datang dari lonjakan harga energi dan meningkatnya risiko inflasi, terutama karena tingginya ketergantungan negara tersebut terhadap impor energi.