IDXChannel - Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Senin (5/10/2026), setelah laporan tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang jauh lebih lemah dari perkiraan meredakan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan ekonomi hanya menambah 29.000 lapangan kerja pada September, jauh di bawah ekspektasi analis sebesar 84.000.
Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,2 persen dari 4,1 persen pada bulan sebelumnya.
Data tersebut memperkuat spekulasi bahwa The Fed tidak memiliki alasan kuat untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed Oktober hanya sekitar 20 persen, turun dari hampir 30 persen sebelum data tenaga kerja dirilis.
"Sentimen utama pasar berbalik ke risk-on setelah laporan tenaga kerja AS yang jauh lebih lemah dari perkiraan meredakan kekhawatiran terhadap pengetatan lebih lanjut oleh Federal Reserve," tulis analis Commerzbank Research dalam laporan yang dikutip Dow Jones Newswires.
Pasar menilai data tersebut mengurangi kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober.
Ekspektasi pelonggaran tekanan suku bunga tersebut mendorong aset berisiko.
Indeks Nikkei Jepang naik 2,4 persen, ASX 200 Australia menguat 0,35 persen, sedangkan FTSE Straits Times Singapura naik 0,42 persen.
Bursa saham Korea Selatan dan China masih tutup karena hari libur nasional.
Di sisi lain, harga minyak mentah justru bergerak melemah pada awal perdagangan Senin.
Tekanan datang dari rencana negara-negara G7 untuk melepas cadangan minyak strategis guna menambah pasokan di tengah ketatnya pasar energi.
G7 sepakat melepas 100 juta barel minyak mentah dan produk bahan bakar dari cadangan darurat serta tidak membatasi ekspor.
Presiden AS Donald Trump melalui Truth Social mengatakan negara-negara Eropa sepakat melepas persediaan diesel dalam jumlah besar dan prosesnya akan segera dimulai.
Dalam pernyataannya, G7 menyebut pelepasan cadangan tersebut akan dilakukan selama empat bulan.
"Langkah ini dilakukan setelah tekanan dari AS, yang kini menghadapi kekurangan pasokan domestik setelah menggunakan cadangannya sendiri selama enam bulan terakhir," tulis analis ANZ Research.
Analis ANZ juga mencatat produsen minyak di kawasan Teluk Persia masih berupaya meningkatkan volume pengiriman melalui Selat Hormuz meski risiko terhadap kapal tetap tinggi.
Selat tersebut merupakan jalur penting bagi transportasi minyak global.
Pada perdagangan Senin pagi, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak terdekat turun 0,7 persen menjadi USD90,51 per barel. Sementara harga Brent melemah 0,3 persen ke USD101,92 per barel, berdasarkan data ICE. (Aldo Fernando)