IDXChannel - Mayoritas bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Senin (3/8/2026), dipimpin penurunan tajam indeks Jepang dan Korea Selatan.
Penguatan yen setelah intervensi mata uang bersama Jepang dan Amerika Serikat (AS) serta aksi ambil untung di saham teknologi menjadi sentimen utama yang membebani pasar.
Indeks Nikkei 225 Jepang merosot 2,20 persen ke level 62.956,48, terkoreksi dari posisi tertinggi dalam sepekan yang dicapai pada perdagangan sebelumnya.
Indeks Topix juga turun lebih dalam, yakni 2,80 persen ke level 3.893,17.
Melansir dari Reuters, dari 225 saham konstituen Nikkei, sebanyak 212 saham berada di zona merah dan hanya 13 saham yang menguat.
Tekanan datang setelah yen menguat hingga 1,40 persen ke level 155,20 per dolar AS, tertinggi dalam empat pekan.
Dalam dua sesi sebelumnya, mata uang Jepang itu telah menguat sekitar 3,80 persen.
Penguatan yen mengurangi nilai pendapatan luar negeri ketika dikonversi ke mata uang domestik sehingga menjadi sentimen negatif bagi emiten eksportir Jepang.
Kementerian Keuangan Jepang mengonfirmasi bahwa Tokyo dan Washington melakukan intervensi bersama untuk membeli yen pada akhir pekan lalu.
Pemerintah Jepang juga menegaskan tidak akan ragu mengambil langkah lanjutan apabila diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
"Intervensi mata uang bersama menjadi fokus utama pasar saham hari ini dan membebani pergerakan indeks secara luas," ujar Strategis Ekuitas Nomura Securities, Wataru Akiyama.
Sejumlah saham teknologi yang sebelumnya menguat ikut terkoreksi. Saham Tokyo Electron turun 2,30 persen dan Advantest melemah 1,30 persen.
Namun, SoftBank Group berhasil berbalik menguat 1,20 persen setelah sempat dibuka di zona merah, sementara Lasertec melonjak lebih dari 5 persen.
Di Korea Selatan, indeks KOSPI jatuh lebih dari 4 persen ke kisaran 6.300 setelah investor merealisasikan keuntungan menyusul reli sekitar 17 persen pada Jumat lalu, yang menjadi kenaikan harian terbesar sepanjang sejarah indeks tersebut.
Saham-saham teknologi kembali menjadi penekan utama. Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing turun lebih dari 7 persen.
Meski demikian, mengutip Trading Economics, sentimen terhadap pasar Korea Selatan masih mendapat dukungan dari Morgan Stanley yang menaikkan rekomendasi saham Korea Selatan menjadi overweight.
Bank investasi tersebut menilai tekanan jual sebelumnya lebih banyak dipicu faktor teknikal akibat tingginya penggunaan leverage dan memperkirakan indeks KOSPI masih memiliki potensi kenaikan sekitar 36 persen.
Selain itu, keputusan Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran turut mendorong penurunan harga minyak dunia, yang sedikit meredakan kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik.
Di kawasan lainnya, indeks Shanghai Composite China turun 0,44 persen, ASX 200 Australia melemah 0,20 persen, dan Straits Times Index (STI) Singapura terkoreksi 0,14 persen.
Berbeda, indeks Hang Seng Hong Kong justru menguat 0,40 persen. (Aldo Fernando)