Bank tersebut menilai meski inflasi terus melandai, kejutan kenaikan inflasi belakangan ini menunjukkan proses disinflasi berlangsung lebih lambat dan belum cukup meyakinkan bagi The Fed.
“Kami melihat alasan untuk menaikkan maupun mempertahankan suku bunga, tetapi tanda-tanda efek lanjutan dari kenaikan harga energi, kuatnya permintaan yang berkaitan dengan investasi AI, tingkat suku bunga netral yang mungkin sementara lebih tinggi, serta kekhawatiran terhadap kredibilitas membuat keseimbangan risiko kini mengarah pada kebijakan yang lebih ketat,” tulis analis Morgan Stanley dalam laporan.
Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat tercermin di pasar obligasi. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sempat menyentuh 5 persen, level tertinggi sejak 2023. Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun juga naik di atas 3,51 persen, level tertinggi sejak 2009.
Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun kembali menyentuh 3 persen.
Bank of Japan (BoJ) juga diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen pada akhir pertemuan dua hari pada Jumat.