Hingga akhir 2025, perusahaan milik Rajawali Group itu mencatat saldo defisit sebesar Rp3,71 triliun yang merupakan akumulasi rugi tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut akibat tekanan keuangan akibat ekspansi usaha, utang, hingga faktor pandemi Covid-19.
Sejak 2022 hingga tahun lalu, perseroan telah menunjukkan pemulihan kinerja, yang ditandai dengan peningkatan laba secara berkelanjutan. Dengan demikian, perseroan memandang perlu untuk melakukan penataan struktur ekuitas dan laporan posisi keuangan agar lebih mencerminkan kondisi keuangan perseroan saat ini secara wajar.
Dengan menghapus saldo defisit, struktur ekuitas BWPT akan lebih baik tanpa terbebani defisit masa lalu. Selain itu, langkah ini juga diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan mulai pemegang saham, kreditur, dan mitra usaha, terhadap prospek usaha, termasuk potensi menarik pinjaman dan membagikan dividen.
(Rahmat Fiansyah)