Dengan kepemilikan Jhonlin sebesar 30,25 persen, bagian dividen yang diterima diperkirakan mencapai sekitar USD290 juta per tahun berdasarkan rata-rata lima tahun tersebut.
Angka itu cukup signifikan jika dibandingkan dengan nilai pembelian saham BYAN yang dibiayai utang sekitar Rp26,1 triliun atau setara USD1,45 miliar.
Dengan asumsi seluruh transaksi dibiayai utang dan bunga pinjaman sebesar 8 persen, imbal hasil dividen terhadap nilai akuisisi mencapai sekitar 20 persen, jauh di atas biaya pinjaman.
Menurut Muhammad, dalam skema pembayaran utang selama tujuh hingga delapan tahun, dividen rata-rata BYAN bahkan berpotensi menutup kebutuhan pembayaran pinjaman tersebut.
Dengan bunga 8 persen, beban bunga tahunan diperkirakan sekitar USD116 juta. Angka itu berarti rasio cakupan bunga (interest coverage) mencapai sekitar 2,5 kali berdasarkan rata-rata dividen lima tahun dan sekitar 1,3 kali jika menggunakan pembayaran dividen tahun buku 2025.