IDXChannel - Kemampuan PT Jhonlin Baratama milik Haji Isam membayar utang kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dinilai lebih tepat dilihat dari arus kas dividen PT Bayan Resources Tbk (BYAN), bukan semata-mata dari nilai agunan saham yang dijaminkan.
Analis Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nurkholis Syafruddin menilai, kepemilikan 30,25 persen saham BYAN setelah transaksi dapat menjadi sumber arus kas untuk menopang pembiayaan utang Jhonlin.
Namun, ruang amannya dinilai cukup tipis karena besaran dividen BYAN sangat bergantung pada siklus batu bara dan kebijakan pembagian dividen.
Dalam riset yang terbit pada 12 Oktober 2026, Muhammad memperkirakan BYAN telah membagikan dividen rata-rata sekitar USD960 juta per tahun selama periode 2021-2025.
Termasuk di dalamnya dividen USD500 juta untuk tahun buku 2025 yang disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 10 Juni 2026.
Dengan kepemilikan Jhonlin sebesar 30,25 persen, bagian dividen yang diterima diperkirakan mencapai sekitar USD290 juta per tahun berdasarkan rata-rata lima tahun tersebut.
Angka itu cukup signifikan jika dibandingkan dengan nilai pembelian saham BYAN yang dibiayai utang sekitar Rp26,1 triliun atau setara USD1,45 miliar.
Dengan asumsi seluruh transaksi dibiayai utang dan bunga pinjaman sebesar 8 persen, imbal hasil dividen terhadap nilai akuisisi mencapai sekitar 20 persen, jauh di atas biaya pinjaman.
Menurut Muhammad, dalam skema pembayaran utang selama tujuh hingga delapan tahun, dividen rata-rata BYAN bahkan berpotensi menutup kebutuhan pembayaran pinjaman tersebut.
Dengan bunga 8 persen, beban bunga tahunan diperkirakan sekitar USD116 juta. Angka itu berarti rasio cakupan bunga (interest coverage) mencapai sekitar 2,5 kali berdasarkan rata-rata dividen lima tahun dan sekitar 1,3 kali jika menggunakan pembayaran dividen tahun buku 2025.
Sementara itu, dengan skema pembayaran anuitas selama tujuh hingga delapan tahun, kebutuhan pembayaran utang diperkirakan sekitar USD252 juta hingga USD279 juta per tahun.
Dengan asumsi tersebut, dividen bagian Jhonlin dari rata-rata lima tahun dapat menutup pembayaran utang sekitar 1,04 hingga 1,15 kali, sehingga pinjaman berpotensi lunas dalam sekitar 6,6 tahun.
Meski demikian, Mirae menilai kemampuan tersebut tidak boleh dilihat secara terlalu optimistis.
Pasalnya, rata-rata dividen lima tahun BYAN terdongkrak oleh pembayaran dividen jumbo pada 2022 yang mencapai USD1,8 miliar saat terjadi commodity supercycle.
Setelah itu, dividen BYAN terus menurun, masing-masing menjadi USD800 juta pada 2023, USD700 juta pada 2024, dan USD500 juta pada 2025.
Jika menggunakan rata-rata dividen periode 2023-2025 sebesar USD667 juta, rasio kemampuan pembayaran utang atau debt service coverage ratio (DSCR) Jhonlin turun menjadi hanya sekitar 0,72-0,80 kali.
Uji sensitivitas Mirae menunjukkan BYAN perlu membagikan dividen setidaknya sekitar USD800 juta hingga USD900 juta per tahun agar bagian dividen Jhonlin mampu menutup pembayaran utang dengan skema anuitas delapan tahun dan bunga 8 persen.
Risiko juga meningkat apabila biaya pinjaman naik. Setiap kenaikan 1 poin persentase pada tingkat bunga diperkirakan memangkas DSCR sekitar 0,04 kali.
Selain besaran dividen, waktu penerimaan juga menjadi persoalan. Jhonlin tidak memperoleh dividen BYAN untuk tahun buku 2025 karena melewatkan tanggal pencatatan atau recording date pada 23 Juni 2026.
Dengan demikian, penerimaan dividen pertama Jhonlin kemungkinan baru berasal dari pembagian dividen BYAN untuk tahun buku 2026.
Kondisi tersebut menciptakan celah pendanaan pada periode awal karena kewajiban pembayaran bunga tetap berjalan sebelum Jhonlin menerima arus kas dividen dari BYAN.
Di sisi lain, kepemilikan 30,25 persen saham BYAN tidak otomatis memberi Jhonlin kendali atas kebijakan dividen perusahaan.
Keluarga Low Tuck Kwong masih memiliki kepemilikan gabungan sekitar 32 persen sehingga keputusan mengenai besaran pembagian dividen tetap tidak sepenuhnya berada di tangan Jhonlin.
Ketidakpastian juga datang dari faktor operasional dan regulasi, termasuk persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), kewajiban domestic market obligation (DMO), serta force majeure yang sebelumnya diumumkan BYAN.
Karena itu, struktur fasilitas kredit menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa besar risiko BMRI dari transaksi tersebut.
Mirae menilai risiko BMRI dapat ditekan apabila fasilitas pinjaman dilengkapi dengan jaminan atas saham BYAN yang baru diperoleh, mekanisme dividend sweep ke rekening yang dikendalikan BMRI, debt service reserve account, serta skema pembayaran utang yang disesuaikan dengan siklus batu bara.
Khusus dividend sweep, mekanisme tersebut memungkinkan BMRI menerima arus kas dividen secara langsung sebelum dana mengalir ke perusahaan holding Jhonlin.
Dengan demikian, karakter pembiayaan dapat bergeser dari pinjaman berbasis agunan saham menjadi pembiayaan yang lebih bertumpu pada arus kas dividen.
Salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah pengungkapan Jhonlin mengenai kemungkinan penjaminan saham BYAN berdasarkan POJK 4/2024.
Di sisi lain, investor juga perlu mencermati laporan BMRI pada kuartal III-2026, terutama terkait pertumbuhan kredit korporasi dan konsentrasi kredit.
Dengan struktur tersebut, risiko BMRI akan lebih banyak bergeser dari risiko likuidasi agunan menjadi risiko siklus batu bara dan kebijakan dividen BYAN.
Menurut Mirae, risiko tersebut relatif lebih mudah dikelola bagi BMRI sebagai satu-satunya pemberi pinjaman.
Meski demikian, transaksi ini bukan menjadi alasan utama Mirae mempertahankan pandangan bearish terhadap BMRI.
Pandangan tersebut lebih banyak didorong oleh kondisi likuiditas dan permodalan bank yang dinilai ketat, tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) sebesar 94,4 persen pada delapan bulan 2026 dan capital adequacy ratio (CAR) bank-only sebesar 17,5 persen pada semester I 2026.
Mirae juga menyoroti kenaikan cost of credit (CoC), terutama terkait eksposur terhadap sektor konstruksi BUMN, di tengah rasio loan loss reserve (LLR) yang berada di sekitar 2,4 persen atau level terendah dalam catatan bank tersebut. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.