Dengan demikian, rencana pengembangan bisnis AI tersebut dapat menjadi bagian dari upaya diversifikasi pendapatan RSCH agar pertumbuhan perseroan tidak hanya bergantung pada okupansi tempat tidur dan skema pembiayaan BPJS.
Analis MNC Sekuritas Rudy Setiawan menilai penjajakan bisnis healthcare berbasis AI merupakan langkah positif bagi RSCH karena membuka peluang sumber pertumbuhan baru di luar bisnis rumah sakit konvensional, sekaligus memberikan optionality pertumbuhan dalam jangka panjang melalui model bisnis yang lebih scalable.
"Inisiatif AI di sektor healthcare ini cukup menarik karena dapat menjadi growth driver baru bagi RSCH. Jika perseroan mampu menemukan use case yang tepat dan mengembangkan model monetisasi yang jelas, kontribusinya terhadap pertumbuhan bisnis ke depan berpotensi cukup signifikan," ujar Rudy.
"Kalau bisnis inti rumah sakit tetap tumbuh dan pada saat yang sama perseroan berhasil membangun lini healthcare berbasis AI, maka RSCH berpotensi memiliki multiple growth driver. Ini yang menurut kami menarik untuk dipantau investor," tutur dia.
Di pasar saham, RSCH pada perdagangan 6 Oktober 2026 ditutup di level Rp575 per saham dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp1,52 triliun.