sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

CSRA Cetak Rekor Penjualan Rp2,07 Triliun, Laba Tumbuh 43 Persen

Market news editor Rahmat Fiansyah
30/10/2026 09:28 WIB
PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) membukukan rekor penjualan tertinggi sepanjang sejarah pada sembilan bulan pertama 2026.
PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) membukukan rekor penjualan tertinggi sepanjang sejarah pada sembilan bulan pertama 2026. (Foto: Ist)
PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) membukukan rekor penjualan tertinggi sepanjang sejarah pada sembilan bulan pertama 2026. (Foto: Ist)

IDXChannel - PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) membukukan rekor penjualan tertinggi sepanjang sejarah pada sembilan bulan pertama 2026. Hingga 30 September 2026, emiten perkebunan kelapa sawit tersebut mencatatkan pendapatan sebesar Rp2,07 triliun, melonjak 55,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,33 triliun.

Pertumbuhan pendapatan ditopang oleh peningkatan produksi minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan inti sawit (kernel), seiring beroperasinya secara penuh tiga pabrik kelapa sawit (PKS) milik perseroan. Selain itu, kenaikan harga jual rata-rata CPO sebesar 5,9 persen, tandan buah segar (TBS) sebesar 6 persen, dan kernel sebesar 8,3 persen turut mendukung kinerja perusahaan.

Dari sisi operasional, produksi CPO CSRA meningkat 65,5 persen menjadi 113.530 ton pada 9M26, dibandingkan 68.590 ton pada periode yang sama tahun lalu. Produksi kernel juga melonjak 68,9 persen menjadi 26.373 ton dari sebelumnya 15.616 ton. Sementara itu, produksi TBS tumbuh 9,9 persen menjadi 273.985 ton dengan produktivitas atau yield mencapai 14,6 ton per hektare, naik dari 14,1 ton per hektare.

Sejalan dengan pertumbuhan penjualan, laba kotor CSRA meningkat 15,4 persen menjadi Rp553,24 miliar. Namun, margin kotor terkoreksi menjadi 26,7 persen dari 35,9 persen akibat kenaikan biaya pembelian TBS dari pihak eksternal dan harga bahan bakar. Laba usaha tercatat sebesar Rp354,58 miliar, tumbuh 17,3 persen dibandingkan Rp302,42 miliar pada 9M25.

Adapun laba bersih perseroan melesat 43,1 persen menjadi Rp306,09 miliar dari Rp213,92 miliar. EBITDA juga meningkat 26,2 persen menjadi Rp538,26 miliar dari Rp426,67 miliar. Meski demikian, margin EBITDA turun menjadi 25,9 persen dari 31,9 persen, sedangkan margin bersih terkoreksi menjadi 14,8 persen dari 16 persen.

Dari sisi neraca, total aset CSRA per 30 September 2026 mencapai Rp2,77 triliun, meningkat 9,9 persen dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp2,52 triliun. Total liabilitas turun 5,4 persen menjadi Rp998,03 miliar, sementara ekuitas meningkat 20,9 persen menjadi Rp1,77 triliun. Peningkatan ekuitas terutama ditopang oleh pertumbuhan laba ditahan.

Struktur permodalan perseroan juga menunjukkan perbaikan. Rasio utang bersih terhadap ekuitas tercatat sebesar 0,50 kali, lebih rendah dibandingkan 0,61 kali pada akhir 2025. Sementara itu, rasio lancar meningkat menjadi 2,11 kali dari 1,43 kali. Rasio utang terhadap EBITDA juga turun menjadi 1,85 kali dari 2,42 kali pada akhir tahun lalu.

Direktur Keuangan dan Pengembangan Strategis CSRA Seman Sendjaja mengatakan, pencapaian rekor penjualan bertepatan dengan perayaan ulang tahun perseroan yang ke-43 pada 28 Oktober 2026. Menurut dia, pencapaian tersebut mencerminkan kekuatan fundamental bisnis, ketangguhan operasional, serta kemampuan perusahaan menangkap peluang pertumbuhan di tengah dinamika industri.

"Momentum perayaan ulang tahun ke-43 tersebut hadir bersamaan dengan keberhasilan perseroan kembali membukukan penjualan tertinggi sepanjang sejarah," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (30/10/2026).

Untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang, CSRA terus menjalankan program peremajaan tanaman (replanting) menggunakan benih unggul, khususnya pada tanaman yang telah memasuki usia lanjut. Perseroan juga mengoptimalkan produktivitas kebun melalui praktik agronomi, termasuk strategi pemupukan yang terukur dan tepat sasaran.

Memasuki 2027, perseroan menyiapkan sejumlah langkah strategis, antara lain mempertimbangkan divestasi anak usaha PT Ina Zefanya Ataya yang dinilai kurang efisien serta mengaktifkan PT Bintang Kenten Lestari untuk mendukung peningkatan pendapatan dan profitabilitas. CSRA juga akan memperkuat penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), termasuk komitmen nol deforestasi, nol pembukaan lahan gambut, dan nol eksploitasi (NDPE).

Sementara itu, perseroan optimistis dapat menutup 2026 dengan kinerja positif seiring permintaan global yang relatif stabil dan prospek harga CPO yang masih kuat. Manajemen akan melanjutkan penguatan fundamental bisnis, peningkatan produktivitas, serta efisiensi operasional untuk menjaga daya saing dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.

Di tengah pencapaian tersebut, CSRA juga berencana membagikan dividen interim sebesar Rp15 per saham dengan total nilai Rp30,75 miliar. Pembayaran dividen dijadwalkan pada 13 November 2026 kepada pemegang saham yang berhak.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement