Dari sisi neraca, total aset CSRA per 30 September 2026 mencapai Rp2,77 triliun, meningkat 9,9 persen dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp2,52 triliun. Total liabilitas turun 5,4 persen menjadi Rp998,03 miliar, sementara ekuitas meningkat 20,9 persen menjadi Rp1,77 triliun. Peningkatan ekuitas terutama ditopang oleh pertumbuhan laba ditahan.
Struktur permodalan perseroan juga menunjukkan perbaikan. Rasio utang bersih terhadap ekuitas tercatat sebesar 0,50 kali, lebih rendah dibandingkan 0,61 kali pada akhir 2025. Sementara itu, rasio lancar meningkat menjadi 2,11 kali dari 1,43 kali. Rasio utang terhadap EBITDA juga turun menjadi 1,85 kali dari 2,42 kali pada akhir tahun lalu.
Direktur Keuangan dan Pengembangan Strategis CSRA Seman Sendjaja mengatakan, pencapaian rekor penjualan bertepatan dengan perayaan ulang tahun perseroan yang ke-43 pada 28 Oktober 2026. Menurut dia, pencapaian tersebut mencerminkan kekuatan fundamental bisnis, ketangguhan operasional, serta kemampuan perusahaan menangkap peluang pertumbuhan di tengah dinamika industri.
"Momentum perayaan ulang tahun ke-43 tersebut hadir bersamaan dengan keberhasilan perseroan kembali membukukan penjualan tertinggi sepanjang sejarah," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (30/10/2026).
Untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang, CSRA terus menjalankan program peremajaan tanaman (replanting) menggunakan benih unggul, khususnya pada tanaman yang telah memasuki usia lanjut. Perseroan juga mengoptimalkan produktivitas kebun melalui praktik agronomi, termasuk strategi pemupukan yang terukur dan tepat sasaran.