IDXChannel - Pemerintah Amerika Serikat (AS) hanya menambah 29.000 lapangan kerja pada September 2026, jauh di bawah ekspektasi ekonom yang mencapai 89.000.
Pelemahan pasar tenaga kerja ini berpotensi memperkuat alasan Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir Oktober.
Berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja AS yang dilansir Investing, Jumat (2/10/2026), pertumbuhan nonfarm payrolls September turun tajam dibandingkan tambahan 162.000 pekerjaan pada Agustus.
Data Juli juga direvisi turun 31.000 pekerjaan, dari sebelumnya dilaporkan bertambah 21.000 menjadi berkurang 10.000 pekerjaan.
Dengan revisi tersebut, total penambahan pekerjaan pada Juli dan Agustus tercatat 60.000 lebih rendah dibandingkan laporan sebelumnya. Dalam 12 bulan terakhir, rata-rata penambahan pekerjaan bulanan AS mencapai 45.000.
Dari sisi sektor, lapangan kerja di sektor kesehatan masih menunjukkan tren peningkatan, meski pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan rata-rata 12 bulan terakhir.
Sementara itu, sektor aktivitas keuangan mencatat penurunan 7.000 pekerjaan. Jumlah tenaga kerja di sektor tersebut kini telah turun 129.000 dari level puncaknya pada Mei 2025, dengan sebagian besar penurunan terjadi pada perusahaan asuransi, menurut Departemen Tenaga Kerja AS.
Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,2 persen pada September, dari 4,1 persen pada Agustus. Angka tersebut lebih tinggi dari proyeksi ekonom yang memperkirakan tingkat pengangguran tetap di 4,1 persen.
Data ketenagakerjaan tersebut menjadi perhatian pasar menjelang pertemuan kebijakan moneter The Fed pada 27-28 Oktober 2026.
Ekspektasi bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga telah menurun dalam beberapa hari terakhir, seiring data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan serta pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang mengindikasikan belum perlunya kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
The Fed sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September sebagai bagian dari upaya menekan inflasi yang masih tinggi. Tekanan inflasi disebut turut dipengaruhi oleh perang di Timur Tengah serta tingginya belanja untuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Pelemahan pasar tenaga kerja dapat menjadi pertimbangan bagi pejabat The Fed dalam menentukan langkah kebijakan selanjutnya. Kenaikan suku bunga secara teori dapat menekan inflasi, tetapi juga berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi dan memperburuk kondisi ketenagakerjaan.
Analis Vital Knowledge menilai, reaksi awal pasar terhadap data ketenagakerjaan tersebut cenderung dovish. Mereka menyoroti pertumbuhan rata-rata upah per jam yang hanya mencapai 0,1 persen secara bulanan, lebih rendah dari perkiraan.
Namun, Vital Knowledge mengingatkan bahwa inflasi saat ini menjadi perhatian yang lebih besar bagi The Fed dibandingkan kondisi ketenagakerjaan.
(DESI ANGRIANI)