Dihadang Serikat Pekerja, Pertamina 'Kukuh' Segera IPO Dua Anak Usaha

Market News
Shifa Nurhaliza
Senin, 27 Juli 2020 08:30 WIB
Dikatakan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, Pertamina tetap akan melakukan Initial Public Offering (IPO) bagi dua anak usahanya.
Dihadang Serikat Pekerja, Pertamina 'Kukuh' Segera IPO Dua Anak Usaha. (Foto: Ist)

IDXChannel - Sebelumnya, para pekerja PT Pertamina (Persero) yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) menentang keras adanya subholding hingga rencana Initial Public Offering (IPO) dua anak usaha pertamina yang membuka peluang privatisasi.

Kendati demikian, Pertamina tetap akan melakukan Initial Public Offering (IPO) bagi dua anak usahanya. Dikatakan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, hal itu penting dilakukan karena sesuai dengan arahan dan target yang ada.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, IPO merupakan salah satu cara perusahaan agar mendapatkan pendanaan untuk mendukung upaya restrukturisasi dan pengembangan bisnis.

Sekadar diketahui, bahwa belanja modal (capital expenditure/capex) Pertamina hingga 2026 diperkirakan mencapai USD133 miliar atau sekitar Rp1.942 triliun (dengan asumsi kurs Rp14.602).

"Kami sudah memetakan kemampuan kita itu 47% (dari total capex), 15% itu equity financing, 10% project financing, 28% ini external fund. External fund ini bisa dari berbagai cara bisa bonds, bisa pinjam ke perbankan dan bisa IPO," ungkap Nicke, seperti dikutip Okezone, pekan lalu.

Sejatinya opsi IPO bukanlah satu-satunya jalan. Pertamina telah memiliki sejumlah opsi yang akan dilakukan. Pertama, saham atau partnership atau IPO, surat utang dan pendanaan dari bank.

Namun IPO menjadi pilihan paling menguntungkan karena memiliki akses jumlah pendanaan yang luas, tidak dibatasi tenor dan pengembaliannya (dividen) lebih fleksibel.

Berbeda dengan surat utang (bonds) dan pinjaman ke perbankan. Selain dibatasi tenor, pendanaan dari surat utang dan perbankan juga dibatasi oleh debt to equity ratio (perbandingan jumlah utang dengan ekuitas perusahaan). Semakin besar utang perusahaan, semakin besar pula debt to equity rationya, dan tentu akan berpengaruh ke kondisi keuangan perusahaan.

"Kenapa kita nggak bonds saja, ya, tapi nanti debt to equity rationya ke-hit (terpukul), dan (dana) juga harus dikembalikan. Kalau IPO lebih fleksibel karena nggak terdampak debt to equity ratio dan tidak usah mengembalikan pokok-pokok pinjaman. Sebenarnya, ada plus minusnya," katanya.

Diungkapkan Nicke, perusahaan minyak dan gas besar di dunia seperti Petronas, BP Energy, PTT hingga Exxon juga melakukan IPO anak usaha untuk mengembangkan bisnis perusahaan. (*)

Baca Juga