IDXChannel - Saham sektor komoditas dinilai berpotensi lebih tahan menghadapi gejolak pasar saham Indonesia, terutama emiten dengan imbal hasil dividen tinggi dan pendapatan berbasis dolar Amerika Serikat (USD).
Saham batu bara termal, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM), dan PT Timah (Persero) Tbk (TINS) menjadi pilihan di tengah tekanan pasar pascapengumuman evaluasi status Indonesia oleh MSCI.
Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dalam riset yang terbit pada 20 Oktober 2026 menilai, sektor komoditas masih berpeluang mencatatkan kinerja relatif lebih baik dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), meskipun sentimen terhadap pasar saham domestik masih kurang kondusif.
Salah satu kelompok yang relatif bertahan adalah emiten batu bara termal, yakni AADI, PTBA, UNTR, dan ITMG.
Saham-saham tersebut hanya terkoreksi sekitar 10 persen setelah pengumuman MSCI, lebih rendah dibandingkan tekanan di sejumlah saham komoditas lain yang turun 9-21 persen dan IHSG yang melemah sekitar 15 persen.
Ketahanan tersebut ditopang oleh tiga faktor, yakni kepemilikan asing yang relatif rendah akibat pertimbangan lingkungan dan ESG, imbal hasil dividen yang menarik, serta harga batu bara termal yang masih tinggi.
AADI menawarkan estimasi dividend yield 11 persen, sedangkan PTBA sebesar 7 persen.
Di sisi harga, indeks harga batu bara Indonesia (ICI) telah meningkat 37-74 persen sepanjang 2026 dan masih melanjutkan kenaikan secara mingguan, seiring pengisian kembali stok menjelang musim dingin.
“Kami masih menyukai saham-saham batu bara termal, dengan AADI dan PTBA sebagai pilihan utama,” tulis Ryan.
Sebaliknya, saham dengan kepemilikan asing tinggi berpotensi menghadapi tekanan jual lebih besar menjelang keputusan MSCI pada Juni 2027.
Di antara emiten yang dicakup Indo Premier, UNTR memiliki porsi kepemilikan investor asing sebesar 64 persen dari free float, disusul AKRA sebesar 51 persen dan ANTM sebesar 48 persen.
Meski demikian, potensi arus keluar dana pasif (passive fund) belum terjadi dalam waktu dekat.
Menurut Ryan, arus keluar tersebut baru berpotensi terealisasi setelah proses konsultasi selesai dan tanggal efektif keputusan diumumkan, yang diperkirakan berlangsung pada semester II-2027.
Dalam periode sebelumnya, tekanan jual lebih mungkin berasal dari investor asing aktif yang keluar lebih awal untuk mengantisipasi perubahan status pasar Indonesia.
Apabila tekanan jual mereda atau Indonesia tidak diturunkan statusnya menjadi Standalone Market, saham dengan kepemilikan asing tinggi justru berpotensi pulih lebih cepat dibandingkan saham yang mengandalkan dividen sebagai penopang.
Dari sisi neraca, risiko juga perlu diperhatikan pada emiten dengan utang bersih tinggi.
Indo Premier mencatat MDKA, MEDC, dan HRUM memiliki rasio utang bersih terhadap kapitalisasi pasar tertinggi di antara saham-saham yang dicakup.
Sebaliknya, ESSA dan ITMG memiliki posisi kas bersih terhadap kapitalisasi pasar tertinggi, masing-masing sebesar 45 persen.
Ryan menilai, emiten dengan utang bersih besar lebih rentan terhadap kenaikan biaya modal dalam jangka panjang.
Namun, tingkat utang MEDC perlu dilihat dengan mempertimbangkan karakteristik bisnis eksplorasi dan produksi minyak serta gas bumi yang memang membutuhkan pendanaan besar.
Di tengah tekanan pasar saham domestik, Indo Premier tetap merekomendasikan pendekatan pada saham berimbal hasil dividen tinggi dan mempertahankan pandangan overweight terhadap sektor komoditas.
Pendapatan berbasis USD dinilai menjadi salah satu penopang ketika rupiah berpotensi melemah.
Analisis sensitivitas Indo Premier juga menunjukkan PGAS, ANTM, dan TINS termasuk saham yang mengalami tekanan cukup besar di pasar, meskipun menawarkan dividend yield di atas 10 persen.
Kondisi tersebut dinilai membuka peluang akumulasi bagi investor yang mempertimbangkan valuasi dan potensi pendapatan dividen. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.