Awal bulan ini, The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun dan memberi sinyal akan adanya pengetatan kebijakan lebih lanjut. Peluang kenaikan suku bunga lanjutan pada Oktober sempat meningkat setelah keputusan September, didorong sebagian oleh komentar bernada hawkish dari para pembuat kebijakan dan aksi jual tanpa henti di pasar obligasi.
Namun, peluang tersebut meredup pada Selasa ketika Presiden The Fed wilayah New York, John Williams, menyatakan tidak ada urgensi untuk menaikkan suku bunga lagi.
Indikator-indikator yang muncul pada Rabu semakin menurunkan peluang pengetatan kebijakan di Oktober. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin persentase bulan depan kini berada di kisaran 37 persen, turun dari hampir 51 persen pada hari sebelumnya.
"Kombinasi laporan-laporan tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa bank sentral AS mungkin akan bersikap kurang hawkish, sekaligus meningkatkan optimisme bahwa siklus ekonomi saat ini mampu menghadapi suku bunga yang jauh lebih tinggi dengan tetap tangguh dan terhindar dari perlambatan," ujar ekonom senior di Interactive Brokers, José Torres, dikutip dari Investing.com, Kamis (1/10/2026).
Lebih lanjut, dia mengatakan perdagangan instrumen pendapatan tetap (fixed income) menunjukkan tren yang terpecah; meredanya tekanan biaya menguntungkan obligasi Treasury tenor pendek, sementara harga minyak yang tinggi dan proyeksi pertumbuhan yang kuat justru membebani obligasi tenor panjang.