Langkah ekspansi ini dipadukan dengan percepatan transisi energi hijau melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di berbagai fasilitas infrastruktur nasional.
"Pembangkit penopang smelter Mempawah ditargetkan commercial operation date (COD) pada 2029 dengan menyerap batu bara 5,5 hingga 6,6 juta ton per tahun. Untuk energi hijau, PLTS kami yang telah beroperasi di Krakatau Steel, Tol Bali, Bandara Soekarno-Hatta, Ombilin, dan Kalimantan akan terus ditingkatkan kapasitasnya melalui bidding RUPTL PLN dan kerja sama bersama Pertamina NRE," ujar Turino.
Hilirisasi batu bara menjadi produk kimia bernilai ekonomi tinggi turut diposisikan sebagai pilar strategis yang menjanjikan keuntungan jangka panjang bagi perseroan.
PTBA telah mematangkan kemitraan bersama sejumlah badan usaha milik negara dan lembaga riset untuk menyerap produk turunan batu bara seperti metanol, gas sintetis, pupuk, hingga bahan baku baterai kendaraan listrik.
"Proyek hilirisasi kami mencakup coal to methanol dan DME bersama Pertamina Patra Niaga, coal to SNG dengan PGN, serta persiapan pembangunan pabrik kalium humat fase 1 dan 2 bersama Pupuk Indonesia. Kami juga mengembangkan coal to artificial graphite bersama BRIN untuk memasok industri baterai yang sedang berkembang pesat," tuturnya.