IDXChannel - PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) membeberkan proyek strategis berskala besar yang diproyeksikan menjadi motor penggerak pertumbuhan bisnis perseroan di masa depan.
Emiten pertambangan pelat merah ini memperluas portofolio usahanya dari produsen batu bara konvensional menjadi penyedia energi terintegrasi melalui pilar coal, power, serta diversifikasi produk bernilai tambah tinggi.
Transformasi bisnis perseroan diakselerasi guna memperkuat daya saing dan mengoptimalkan monetisasi cadangan batu bara secara berkelanjutan. Sebagai pilar pendukung utama keandalan distribusi, perseroan tengah merampungkan pembangunan infrastruktur logistik jalur kereta api relasi Tanjung Enim menuju Kramasan di Sumatra Selatan untuk menggenjot kapasitas angkutan secara bertahap.
"Sejak 2015 kami bertransformasi dari penjual batu bara menjadi penyedia listrik, dan kini kami kembangkan lagi konsep coal, power, serta beyond coal seperti kalium humat hingga coal to chemicals. Proyek logistik Tanjung Enim ke Kramasan berkapasitas 20 juta ton per tahun siap beroperasi mulai akhir semester II-2026 dan ditargetkan mencapai kapasitas penuh dalam tiga tahun," ujar Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto dalam siaran paparan publik di Jakarta, Senin (7/9/2026).
Pada sektor ketenagalistrikan, perseroan yang kini telah mengoperasikan empat pembangkit listrik bersiap menambah satu unit pembangkit baru berkapasitas 1.440 MW guna menyuplai kebutuhan energi fasilitas pemurnian atau smelter aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat.
Langkah ekspansi ini dipadukan dengan percepatan transisi energi hijau melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di berbagai fasilitas infrastruktur nasional.
"Pembangkit penopang smelter Mempawah ditargetkan commercial operation date (COD) pada 2029 dengan menyerap batu bara 5,5 hingga 6,6 juta ton per tahun. Untuk energi hijau, PLTS kami yang telah beroperasi di Krakatau Steel, Tol Bali, Bandara Soekarno-Hatta, Ombilin, dan Kalimantan akan terus ditingkatkan kapasitasnya melalui bidding RUPTL PLN dan kerja sama bersama Pertamina NRE," ujar Turino.
Hilirisasi batu bara menjadi produk kimia bernilai ekonomi tinggi turut diposisikan sebagai pilar strategis yang menjanjikan keuntungan jangka panjang bagi perseroan.
PTBA telah mematangkan kemitraan bersama sejumlah badan usaha milik negara dan lembaga riset untuk menyerap produk turunan batu bara seperti metanol, gas sintetis, pupuk, hingga bahan baku baterai kendaraan listrik.
"Proyek hilirisasi kami mencakup coal to methanol dan DME bersama Pertamina Patra Niaga, coal to SNG dengan PGN, serta persiapan pembangunan pabrik kalium humat fase 1 dan 2 bersama Pupuk Indonesia. Kami juga mengembangkan coal to artificial graphite bersama BRIN untuk memasok industri baterai yang sedang berkembang pesat," tuturnya.
Untuk menjamin kepastian pasokan bagi seluruh lini bisnis tersebut, perseroan telah memetakan alokasi cadangan batu bara secara terukur ke dalam tiga rantai usaha utama perseroan.
Di samping mengoptimalkan komoditas fosil, PTBA turut merevitalisasi kawasan lahan pascatambang dan pascareklamasi menjadi pusat pengembangan energi baru terbarukan.
"Dari total cadangan 2,88 miliar ton, kami mengalokasikan 1,7 miliar ton untuk perdagangan konvensional, 300 juta ton untuk pembangkit listrik, serta 842 juta ton khusus hilirisasi coal chemicals. Di luar sektor batu bara, kami juga mengembangkan bisnis hijau dan infrastruktur dengan memanfaatkan lahan pascatambang serta pascareklamasi menjadi sumber energi listrik," kata Turino.
(NIA DEVIYANA)