Meski demikian, laba bersih perseroan tercatat Rp23 miliar, terkoreksi dibandingkan capaian Rp242 miliar pada 2024.
"Meskipun kondisi tersebut memberikan tekanan terhadap margin keuntungan perseroan, manajemen memandang langkah tersebut sebagai investasi operasional yang diperlukan untuk menjaga stabilitas layanan, mempertahankan hubungan dengan pelanggan, serta memastikan kesiapan perseroan dalam menangkap peluang pertumbuhan di masa mendatang," katanya.
Dia menerangkan, perseroan juga mencatatkan peningkatan total aset sebesar 12 persen menjadi Rp1,69 triliun dibandingkan Rp1,50 triliun pada 2024. Kenaikan tersebut didorong oleh bertambahnya aset tetap berupa kapal sebagai bagian dari upaya perseroan memperkuat armada dan meningkatkan kapasitas operasional.
“Peningkatan aset tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang Perseroan dalam memperkuat daya saing dan mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” katanya.
Selain itu, total aset perseroan juga mengalami peningkatan jumlah aset menjadi Rp1,69 triliun, mencerminkan ekspansi usaha dan penguatan kapasitas operasional yang terus dilakukan perseroan.
Wendi menambahkan, pada 2026, perseroan akan memperkuat pertumbuhan melalui diversifikasi komoditas, perluasan wilayah pengiriman, dan pengembangan kerja sama dengan pelanggan baru.
"Perseroan juga akan terus meningkatkan kualitas layanan melalui penerapan CRM, digitalisasi operasional, efisiensi penggunaan sumber daya, serta penguatan tata kelola perusahaan yang baik (GCG) untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan," ujar dia.
(Dhera Arizona)